Dinas Penanaman Modal Jateng Ingin UMKM Bisa Tarik Investor
Capaian target yang penanaman modal yang sudah mencapai 76 persen di semester pertama tahun 2019 tidak lantas membuat Dinas Penanaman Modal dan
Penulis: rival al manaf | Editor: muh radlis
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Capaian target yang penanaman modal yang sudah mencapai 76 persen di semester pertama tahun 2019 tidak lantas membuat Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Jateng kemudian merasa lega.
Pada enam bulan pertama tahun ini Jateng sudah digelontor Rp 36,6 triliun dari para investor.
Padahal target awal yang dicanangkan hingga akhir tahun nanti hanya Rp 47,41 triliun.
Meski demikian, mereka tidak begitu saja bernafas lega karena pemerintah pusat meminta pertumbuhan ekonomi bisa mencapai tujuh persen di Jateng.
Investasi sendiri merupakan salah satu faktor utama untuk meraihnya.
Pada tahun-tahun sebelumnya, pertumbuhan ekonomi di Jateng hanya berkisar di angka lima hingga mendekati enam persen.
Menghadapi tantangan itu, Kepala DPMPTSP Ratna Kawuri menyebut ada satu sektor yang perlu diberi stimulan untuk bisa menarik investor lebih banyak ke Jateng.
Sektor itu justru berasal dari Usaha Mikro Kecil dan Menengah yang ada di Jateng.
• Viral Selebaran Berisi Nama Gubernur Jateng Jadi Mendagri, Ganjar: Saya Ngurusi Jawa Tengah Saja
• Anna Octaviana, Tuna Daksa Juara Lomba Fotografi Diecast
• Ini Penyebab Angin Berhembus Kencang di Beberapa Wilayah Jawa Tengah
• Tandatangani Zona WBK dan WBBM, Bupati Wihaji Minta RSUD Kalisari Batang Tingkatkan Pelayanan
"Ada undang-undang yang mengatur bahwa investor yang masuk diharuskan bermitra dengan UMKM, jadi sudah ada dasar hukumnya," terang Ratna dalam diskusi Realisasi Investasi di Jateng di Hotel Kesambi Hijau, Rabu (21/8/2019).
Potensi lainnya dalah jumlah UMKM di Jateng yang menurutnya cukup banyak.
Ia mengandaikan jika produk UMKM berhasil dikenalkan ke luar negeri dan menarik investor masuk maka akan bisa menambah angka penanaman modal.
"Persoalannya saat ini adalah sudah siapkah UMKM untuk bisa mendapat suntikan modal dari investor?
Sudah layak kah produknya untuk bisa diekspor dan diproduksi massal?
Nanti saya dengan Dinas Koperasi dan UMKM yang akan melink and matchkan.
Mau tidak mau saat in UMKM harus siap," tegasnya.
Dengan begitu maka akan semakin banyak investor masuk selain dari sektor-sektor ekonomi makro.
Di lain sisi ia juga akan terus menjaga investor lama agar semakin banyak menanamkan modalnya di Jateng dan mengundang rekan sesama investor.
Di lain sisi Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Jateng, Emma Rachmawati menyebut saat ini potensi usha kecil dan menengah di provinsi ini memang cukup besar.
"Dari data kami ada 4,8 juta UMKM di Jateng dan 98 persennya kategori kecil, modalnya di bawah Rp 50 juta.
Nah ini memang menjadi pekerjaan rumah kami untuk bisa mengangkat mereka naik kelas.
Dalam artian bisa memproduksi massal dan layak untuk diekspor," timpal Emma.
Ia memaparkan pernah membawa dua UMKM ke Jeddah bersama dengan produknya.
Di Arab Saudi keduanya mendapatkan investor ada yang tertarik untuk menambah modal sehingga produksi bisa ditambah sehingga mampu mengisi pasar di sana.
"Kembali ke Indonesia, dua UMKM ini ternyata belum siap untuk ber MoU mereka masih khawatir dan buta dengan perjanjian kerjasama.
Nah disinilah kenapa kami harus terus mendampingi mereka termasuk memberikan pemahaman untuk ramah kepada penanam modal," ungkap Emma. (val)