Seniman Asal Kolombia dan Jerman Ramaikan Festival Jatiwayang Semarang

Kolektif Hysteria bersama warga Jatiwayang dengan sokongan penuh dari Direktorat Kesenian, Ditjen Kebudayaan, Kemendikbud menggelar acara unik

Seniman Asal Kolombia dan Jerman Ramaikan Festival Jatiwayang Semarang
ISTIMEWA
Seorang seniman melukis di salah satu dinding tembok di Kampung Jatiwayang, Ngemplak Simongan. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Kolektif Hysteria bersama warga Jatiwayang dengan sokongan penuh dari Direktorat Kesenian, Ditjen Kebudayaan, Kemendikbud menggelar acara unik di Kampung Jatiwayang, Ngemplak Simongan, Semarang minggu-minggu ini.

Acara yang bertajuk Arus Bukit itu selain melibatkan seniman dari Semarang juga ikut serta partisipan dari
luar kota seperti dari Banjarmasin, Lombok, Mataram, Bogor, Surakarta, Surabaya, Malang, Cirebon, Rembang, Bandung, Yogyakarta bahkan Kolombia dan Jerman.

Ketua Panitia Istiqbalul Fitriya mengatakan tidak seperti pameran pada umumnya, seniman akan menjalani residensi selama semingguan untuk membaur bersama warga.

“Diharapkan dari aktivitas live in ini karya mereka akan dekat dengan masyarakat dan bisa memberi kontribusi terutama kampung,” katanya dalam keterangan tertulis Rabu (21/8/2019)

Sebanyak 23 seniman visual dan 24 seniman pertunjukan terlibat dalam helatan yang berlangsung sejak 3 Agustus hingga puncaknya 24 dan 25 Agustus besok.

Berbeda dengan Festival Bukit Jatiwayang pertama tahun lalu, acara kali ini mengangkat isu bukit sebagai titik masuk.

Dalam siaran persnya, disebutkan bahwasanya Semarang adalah kota bukit namun jarang sekali topografi ini dianggap sebagai penanda kota atau branding apalagi diaktivasi sebagai tempat aktivitas kesenian.

"Melalui kegiatan ini diharapkan bukit-bukit dapat diberdayakan kembali. Amatan media menunjukkan
puluhan seniman yang tinggal dalam basecamp bersama berlalu lalang tiap hari untuk menggambar dinding atau membuat instalasi di kampung," bebernya.

Ajit Mahendra (26) warga Jalan Srinindito Timur Nomor 7 RT 02 RW 3, Ngemplak Simongan merasa sangat senang dengan adanya aktivitas ini nama kampung terangkat dan menjadi indah.

“Bagus sekali kegiatannya, kami merasa bangga terlibat dalam kegiatan ini,” katanya.

Ada belasan rumah yang dindingnya dilukisi dengan aneka karakter yang masih relevan dengan isu kampung.

Waris Sutriono (40) warga Srinindito Timur Nomor 2 RT 6 RW 3 menambahkan juga merasa senang karena kegiatan ini bisa mengajarkan kepada generasi muda tentang kampung dan merawat budaya.

Selain aktivitas mural dan grafiti kegiatan ini juga diisi dengan berbagai rangkaian acara yang tidak kalah menarik.

Ada bukit buku yakni pameran buku di tengah kampung dan juga bazaar makanan oleh warga setempat.

Ribuan buku yang didatangkan dari puluhan penerbit dari macam-macam ini turut meramaikan acara yang sedianya dibuka pada tanggal 24 Agustus mendatang oleh Tubagus Andre Sukmana, Kepala Sub Direktorat (Kasubdit) Seni Media Ditjen Kebudayaan, Kemendikbud.

Penulis: rival al-manaf
Editor: galih permadi
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved