Pemerintah Targetkan Penyakit Demam Berdarah Berkurang di Tahun 2025

Target Kementerian Kesehatan RI saat ini di antaranya tahun 2025 penyakit demam berdarah berkurang, dan 2030 penyakit malaria bisa tereliminasi

Pemerintah Targetkan Penyakit Demam Berdarah Berkurang di Tahun 2025
Tribunjateng.com/Akbar Hari Mukti
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo buka seminar nasional hari pengendalian nyamuk 2019 di Setos Hotel, Semarang, Kamis (22/8/2019). 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Penyakit tular vektor, khususnya nyamuk masih menjadi salah satu permasalahan kesehatan di Indonesia.

Target Kementerian Kesehatan RI saat ini di antaranya tahun 2025 penyakit demam berdarah berkurang, dan 2030 penyakit malaria bisa tereliminasi.

dr. Siti Nadia Tarmizi, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Ditjen P2P Kemenkes RI, mengatakan untuk mengoptimalkan target itu maka dukungan semua pihak dibutuhkan. Di antaranya masyarakat.

"Demam berdarah, malaria juga kaki gajah adalah sebagian dari penyakit yang ditularkan oleh sektor nyamuk."

"Target 2025 Indonesia mencapai eliminasi filariasis (kaki gajah) dan reduksi demam berdarah. Bahkan tahun 2030 Indonesia diharap mencapai eliminasi malaria," paparnya di seminar nasional hari pengendalian nyamuk 2019 di Setos Hotel, Semarang, Kamis (22/8/2019).

Menurut Siti Nadia, pengendalian secara lintas sektoral merupakan upaya preventif pencegahan penyakit-penyakit tersebut.

"Lebih efektif bila melibatkan masyarakat," katanya.

Di Kota Semarang, pengendalian lintas sektoral menurutnya cukup baik. Di antaranya peranan tim penggerak PKK Kota Semarang lewat gerakan satu rumah satu jemantik yang berkontribusi terhadap pengendalian demam berdarah di Semarang.

"Berkehidupan secara bersih dan sehat perlu terus ditanamkan," paparnya.
Adapun Kepala Dinkes Provinsi Jateng, Yulianto Prabowo mengatakan hal lain yang diterapkan di antaranya mendorobg dokter klinik di setiap klinik di Jateng menguasai diagnosis Demam Berdarah Dengue.
"Kami dorong mereka menguasai 155 diagnosis penyakit termasuk DBD," ujarnya.

Penyakit dengue yang disebabkan nyamuk aedes aegypti menurutnya diklasifikasikan menjadi tiga.

Di antaranya DBD atau Dengue Hemorrhagic Fever, Dengue Fever (DF) dan Dengue Shock Syndrome (DSS).

"DHF dan DSS urusan rumah sakit. Tetapi masyarakat terkena DBD banyak, maka dokter klinik harus bisa mendiagnosisnya," kata dia.

Adapun seminar ini diinisiasi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Undip dan Kemenkes.

"Semoga lewat ini, ada pemecahan masalah agar penyakit-penyakit tersebut kasusnya cepat berkurang," ujar Wakil Rektor Bidang Komunikasi dan Bisnis Undip, Dr. Darsono. (Ahm)

Penulis: akbar hari mukti
Editor: muslimah
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved