Breaking News:

Sakit Hati Dipecat, Mantan Tukang Kebun Gondol Puluhan Laptop hingga Bor Listrik SMK di Tegal

Komplotan pencuri laptop di SMK Peristek Pangkah Tegal ternyata pernah bekerja sebagai tukang kebun di sekolah tersebut.

Tribunjateng/gum
Para pelaku diamankan di Mapolres Tegal dalam ekspose, Kamis (22/8/2019). 

TRIBUNJATENG.COM, SLAWI - Sejumlah 31 laptop dan sejumlah alat elektronik operasional milik SMK Peristek, Kecamatan Pangkah, Kabupaten Tegal, digondol komplotan maling.

Parahnya, beberapa di antara komplotan tersebut ternyata pernah bekerja sebagai tukang kebun di sekolah tersebut.

Mereka berani melakukan hal tersebut lantaran sakit hati dipecat dari pekerjaannya sebagai tukang kebun.

Mereka yang merupakan mantan tukang kebun SMK itu adalah, Muhammad Rio Bayung (34) warga Desa/Kecamatan Pangkah, Muhammad Irfan (27) dan Dede Ahmad (21) warga Kelurahan Procot Kecamatan Slawi Kabupaten Tegal.

Selain ketiga pelaku, petugas juga mengamankan Ariefyanto(41) warga Desa Tuwel Kecamatan Bojong Kabupaten Tegal yang diduga menjadi penadah hasil jarahan mereka.

Wakapolres Tegal, Kompol Arianto Salkery mengatakan pengungkapan kasus itu bermula dari adanya laporan dari Kepala SMK Peristek.

Menurut laporan, kehilangan sejumlah alat elektronik di SMK tersebut terjadi secara bertahap sejak Mei 2019 lalu, menjelang Idul Fitri 2019.

Pihak sekolah merasa kehilangan satu unit laptop yang berada di laboratorium.

"Selanjutnya dilakukan pengecekan ke laboratorium lain. Didapatkan sejumlah laptop, komputer, dan peralatan lainnya juga hilang," kata Kompol Arianto kepada Tribunjateng.com, Kamis (22/8/2019).

Menurut dia, total barang yang hilang yakni laptop sebanyak 31 unit, 3 komputer, 2 unit proyektor, bor listrik, grinder duduk dan peralatan bengkel.

"Dengan kerugian ditaksir mencapai Rp 83.000.000.Setelah mendapatkan laporan itu, kita melakukan penyelidikan sehingga berhasil mengamankan 3 pelaku. Kemudian dikembangkan lagi sehingga 1 pelaku lainnya yang berperan sebagai penadah juga diamankan," tegasnya.

Wakapolres menjelaskan modus yang digunakan pelaku yakni mengambil barang-barang itu secara bertahap saat suasana sekolah dalam keadaan sepi.

Adapun motif pelaku nekat melakukan aksi itu lantaran sakit hati karena dipecat.

"Perbuatan itu dilakukan sejak awal Mei 2019 lalu, saat menjelang hari raya. Hasilnya dijual dengan harga bervariasi. Ada yang dijual Rp 1.000.000 untuk 13 unit leptop," imbuhnya.

Sementara, Muhammad Rio Bayung, salah satu tersangka mengaku memang sakit hati lantaran dipecat sebagai tukang kebun.

Karenanya, dia bersama kedua pelaku lainnya nekat mengambil barang-barang tersebut.

"Saya sakit hati karena dipecat dari pekerjaan," tandasnya.

Atas perbuatannya, ketiga pelaku dijerat dengan pasal 363 KUHP dengan ancaman hukuman maksimal 5 tahun.

Sedangkan seorang pelaku yang berperan sebagai penadah dijerat dengan pasal 480 KUHP. (Tribunjateng/gum).

Penulis: Akhtur Gumilang
Editor: m nur huda
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved