OPINI Lilik Rohmawati : Pasca Demo Manokwari

Indonesia merupakan negara kesatuan yang terdiri dari pulau-pulau yang dipisahkan oleh laut.

OPINI Lilik Rohmawati : Pasca Demo Manokwari
KONTRIBUTOR KOMPAS TV/ BUDY SETIAWAN
Aksi blokade jalan oleh masyarakat Papua di Manokwari, terhadap tindakan rasisme yang terjadi terhadap mahasiswa Papua di Surabaya. 

Oleh LILIK ROHMAWATI SE, M.Sc

Dosen Akuntansi STIE Assholeh Pemalang

Indonesia merupakan negara kesatuan yang terdiri dari pulau-pulau yang dipisahkan oleh laut. Hal ini menciptakan kekayaan adat suku, etnis, golongan dan ragam kebudayaan. Luasnya wilayah Indonesia ini sangat memungkinkan warga dari suatu daerah berbondong-bondong menjadi pendatang baik melalui program transmigrasi untuk memperbaiki dan mengadu nasib, mengejar jenjang karir maupun untuk menuntut ilmu di pulau seberang.

Sebagai contoh, tingginya antusiasme masyarakatdari Sumatra, Kalimantan, Sulawesi dan Papua berbondong-bondong ke Jawa untuk mendapatkan kualitas pendidikan terbaik.

Perbedaan suku, antargolongan, ras dan agama ini dapat menjadi pemicu pergesekan, pertikaian dan perselisihan di masyarakat. Seperti kerusuhan yang terjadi di Manokwari, berawal dari perasaan kekecewaan, perasaan ketidakadilan dan prasangka warga Papua terhadap tindakan aparat di Surabaya dan Malang. Prasangka bahwa warga Papua lain telah diperlakukan tidak adil ini mimicu protes dengan merusak fasilitas pemerintahan di Manokwari.

Kerusuhan yang terjadi ini tidak hanya merugikan negara akan tetapi juga membuka memori bahwa konflik yang disebabkan SARA sering terja di sebelumnya. Terlebih di dewasa ini pemberitaan dibumbui dengan kekuatan media sosial yang mempercepat penyebaran informasi, mempermudah kesalahpahaman serta memicu prasangka,

Kerusuhan menyangkut perbedaan etnis pernah terjadi pada tahun 1990 yaitu konflik antaraetnis Bali dan etnis Sumbawa. Konflik ini dilatarbelakangi kedatangan warga Bali untuk bekerja mengadu nasib kemudian melahirkan kecemburuan etnis Sumbawa yang merasa bahwa daerahnya telahdikuasai oleh etnis Bali.

Selain itu adanya anggapan dari masyarakat Sumbawa bahwa masyarakat Bali membawa serta perilaku budaya adat yang terlihat begitu mencolok di Sumbawa. Diperuncing dengan adanya penembakan yang dilakukan aparat yang menyebabkan korban meninggal dunia, konflik antardua etnis ini tidak dapat dihindarkan pada17 November 1980 yang menyebabkan amuk warga serta perkelahian besar-besaran.

Konflik lain juga terjadi di Poso 1998-2001, yang berawal dari pemuda yang sedang mabuk yang mendatangi pemuda lain yang sedang melakukan ibadah di Masjid yang kemudian melebar menjadi konflik berbalut isu suku, ras, antargolongan dan agama.

Akan tetapi yang membedakan konflik dahulu dan kerusuhan Manokwari adalah adanya pengaruh media sosial yang begitu cepat dalam memblow-up berita sehingga menyebabkan kondisi yang memanas, menggiring opini yang tidak benar, mengaburkan cerita yang sangat merugikan dan berdampak fatal. Bukan tidak mungkin di masa yang akan datang gesekan dan pertikaian akan semakin sering terjadi apabila tidak ada upaya serius untuk mencegah kejadian serupa.

Halaman
12
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved