Rozikin Jamin Olahan Bandeng Miliknya Tak Bikin Pelanggan Kecewa, Produksi Sehari Capai 300 Kg

Hasil perikanan di Kabupaten Kendal yang melimpah terutama bandeng membuat produk olahan ikan tersebut banyak dijumpai di Kendal.

Rozikin Jamin Olahan Bandeng Miliknya Tak Bikin Pelanggan Kecewa, Produksi Sehari Capai 300 Kg
TRIBUN JATENG/DHIAN ADI PUTRANTO
Rozikin mengunci panci presto yang digunakan untuk mengolah ikan bandeng, Minggu (25/8/2019). 

TRIBUNJATENG.COM, KENDAL - Hasil perikanan di Kabupaten Kendal yang melimpah terutama bandeng membuat produk olahan ikan tersebut banyak dijumpai di Kendal.

Salah satu olahan ikan yang hidup di air payau itu yakni bandeng presto.

Meski bandeng presto bukanlah makanan khas Kabupaten Kendal, namun olahan ikan ini cukup mudah ditemui di wilayah tersebut.

Salah satu produsen olahan ikan bandeng yang memiliki kapasitas produksi cukup besar di Kabupaten Kendal yakni Rozikin.

Pria yang memberikan label olahan bandengnya bernama Bandeng Rozal itu dalam sehari mengolah ikan bandengan sebanyak 300 sampai 400 kilogram.

Bandeng itu tidak hanya dibuat presto, juga dalam bentuk otak-otak bandeng, bandeng cabut tanpa duri, hingga pepes bandeng.

"Saya ambil ikan bandengnya dari Kendal. Seperti dari Rowosari dan Brangsong."

"Karena kualitas bandeng di Kendal sangat baik. Jika dibuat menjadi olahan, daging tidak berbau tanah. Baunya ikan segar," tuturnya, Minggu (25/8/2019).

Ia mengatakan, bahan kualitas dari bandeng olahannya dapat bersaing dengan kota penghasil bandeng presto seperti Semarang maupun Pati.

Pasalnya, selain dirinya menjual di dalam kota, juga telah memasarkan ke Temanggung bahkan saat ini mulai merambah ke Yogyakarta.

"Dahulunya produksi ini dilakukan oleh kakak dan saya. Kami lakukan ini karena para petani bandeng hanya menjual hasil secara mentah. Kami berusaha agar meningkatkan nilai jual dari bandeng itu."

"Namun saat itu sempat terhenti dan pada 2001. Saya lanjutkan lagi dan Alhamdulillah yang semulanya satu hari hanya mengelola 10 kilogram kini menjadi 300 kilogram tiap hari," ujarnya.

Ia berharap, agar pemerintah dapat memberikan wadah bagi para UMKM seperti dirinya dan lainnya untuk dapat memasarkan serta memamerkan produk mereka di satu tempat.

"Bisa dijadikan tempat semacam pusat oleh-oleh sendiri yang berjualan."

"Di sana kami dapat memamerkan barang kami dan menjualnya. Karena selama ini kami hanya menintipkan di sebuah toko oleh-oleh," pungkasnya. (Dhian Adi Putranto)

Penulis: Dhian Adi Putranto
Editor: deni setiawan
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved