OPINI Marjono : Merawat Nasionalisme Anak-anak

Tujuh puluh empat tahun silam, proklamasi kemerdekaan ditancapkan kuat di bumi pertiwi.

OPINI Marjono : Merawat Nasionalisme Anak-anak
Bram
Marjono 

Oleh: Marjono

Kasubag Materi Naskah Pimpinan Pemprov Jateng

Tujuh puluh empat tahun silam, proklamasi kemerdekaan ditancapkan kuat di bumi pertiwi. Semua berjuang, baik pahlawan yang dikenal maupun yang tidak dikenal. Petani, nelayan, buruh, guru, laki-laki, perempuan semua bergerak mengusir kolonial dari tanah leluhur Indonesia. Heroik dan nasionalisme begitu hebat.

Berbuat hero dan menjadi nasionalis bukan hanya milik elit, pengusaha, pejabat, politisi, dosen, profesor, para pakar, mahasiswa dan kaum muda lain. Tapi, sikap dan sifat hero juga nasionalis bahkan bisa dipunyai anak-anak kita yang barangkali sangat belia, misalnya anak-anak yang masih duduk di bangku Play Group, Taman Kanak-kanan, atau PAUD.

Ada saja bagian cara kita mendorong dan menggerakkan heroisme dan nasionalisme bagi mereka. Mungkin, selama ini, tak kita sadari sesungguhnya pada setiap upacara HUT Kemerdekaan RI bisa kita sediakan space panggung buat anak-anak yang lembut ini dengan didampingi guru atau orangtua untuk menyaksikan dan terlibat dalam khidmatnya prosesi upacara tersebut.

Tak sedikit yang didapat pada gelaran upacara kenegaraan tersebut bagi calon-calon pemimpin bangsa ke depan. Anak-anak, sekurangnya, memperoleh daya imajinasi yang hebat atas apa yang dilihat dan dialami pada perhelatan saat itu. Di sana ada profesi tentara, polisi, ASN, mahasiswa, kakak-kakanya yang masih bersekolah maupun menatap langsung sosok inspektur upacara, presiden/gubernur/bupati/wali kota dan lainnya.

Anak-anak pun akan banyak belajar soal disiplin, tentang kerapihan, kejujuran, dan gagahnya sosok tentara dan atau polisi. Bukan itu saja, anak-anak beroleh edukasi tentang khidmatnya pengibaran bendera sang saka Merah Putih tatkala lagu kebangsaan, Indonesia Raya, dinyanyikan.

Kembali pada magnet upacara bendera HUT Kemerdekaan RI, sekurangnya mampu menginternalisasi nasionalisme kepada anak-anak kita. Betapa tidak, anak-anak yang didampingi orangtua maupun gurunya menyimak betul bagaimana teks proklamasi yang dibacakan founding father-Soekarno-Hatta kembali menggema menggenapi riangnya hati anak-anak dengan saputan aksesoris ikat kepala merah putih, topi merah putih, dan kadang, acap kita saksikan kostum anak-anak yang berwarna ke-Indonesia-an.

Begitu juga anak-anak bisa dikisahkan tentang Ibu Fatmawati yang menjahit kain nerah putih, yang kelak ditetapkan sebagai bendera pusaka. Selain itu, menyemai jiwa anak-anak soal nasionalisme tak harus diprovokasi lewat mengangkat senjata, kecuali dalam koridor "bermain peran" menggunakan senapan mainan pula.

Pada lapangan kampung, tak terkecuali di balai desa atau balai RT/RW, banyak digelar lomba dongeng kepahlawanana atau nasionalisme. Melalui agenda ini, akan mengajak mengenal lebih jauh tentang arti kepahlawanan serta menumbuhkan semangat kebangsaan dalam dada anak-anak kita. Lomba dongeng ini lebih bersifat mengedukasi soal kewarganagaraan selayaknya dongeng tradisional. Tak ayal, kisah seperti legenda Si Jampang dari Betawi, kisah Si Malengkar dari Kutai, Lutung Kasarung dari Pasundan, menjadi familiar di telinga mereka. Maupun, kisah pahlawan nasional baik yang sudah terpublikasi maupun yang belum dikenal. Pada tahap ini, anak perlu diberikan pemahaman setara dengan perkembangannya.

Halaman
12
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved