Ketika Bupati Batang Wihaji Ndalang, Memainkan Wayang Lakon Dewa Ruci

Walau hanya tampil beberapa menit memainkan wayang kulit, Bupati Batang terampil dan lincah memainkan tokoh wayang

Penulis: dina indriani | Editor: m nur huda
Istimewa
Bupati Batang Wihaji terampil dan lincah memainkan tokoh wayang dalam pentasnya di Jalan Veteran Batang, Sabtu ( 31/8/2019) malam. 

TRIBUNJATENG.COM, BATANG - Walau hanya tampil beberapa menit memainkan wayang kulit, Bupati Batang terampil dan lincah memainkan tokoh wayang dalam pentasnya di Jalan Veteran Batang, Sabtu ( 31/8/2019) malam.

Pagelaran wayang kulit tersebut dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan ke-74 Republik Indonesia yanh juga bertepatan pula dengan malam satu suro dan 1 Muharram 1441 Hijriyah.

Tak sendiri, Ki dalang Wihaji berkolaborasi dengan Ki dalang Utomo dan Ki Santoso dari Kabupaten Batang, wayang kulit tersebut mengambil lakon Dewa Ruci.

"Saya pencinta wayang, ketika diminta oleh Pepadi ( Persatuan Pedalangan Indonesia ) Batang untuk mengawali pentas untuk menghibur masyarakat Batang," ujar Wihaji usai jadi dalang.

Dikatakannya, pentas ini menjadi pengalaman kali keduanya.

Walau dengan durasi yang tidak lama dalam memainkam wayang dengan lakon Dewa Ruci, Wihaji ingin lebih mengampanyekan kecintaanya terhadap budaya agar lebih digemari dan dicintai oleh masyarakat, karena wayang mulai tergeser dengan budaya lain.

"Zaman perwalian wayang sebagai media dakwah, dengan filosofi kehidupan kita sehari - hari dari lakon Werkudoro, Gatot Kaca dan Sengkuni ada di kehidupan kita, maka pendekantan perubahan yang paling pas yakni budaya,"ujarnya.

Menurutnya, tidak dipungkiri kemajuan zaman di era revolusi industri yang semakin kompetitif, kalau tidak ada yang melestarikan seni buadaya sebagai kearifan lokal akan hilang dari peradaban.

"Oleh kerana itu, melalui Organisasi Persatuan Pedalangan Indonesia (PEPADI) Kabupaten Batang, Pemkab melakukan pembinaan kepada calon-calon dalang muda agar lebih kreatif dan tidak monoton,sehingga dapat diterima oleh kaum milenial," jelasnya.

Wihaji yang juga sebagai Pengurus Pepadi Provinsi Jawa Tengah menjelaskan Dewa Ruci adalah nama seorang Dewa kerdil (mini) yang dijumpai oleh Bima atau Werkudara dalam sebuah perjalanan mencari air kehidupan untuk menjaga kedamaian dengan simbul banyu suci prawitosari.

"Lakon ini mengajarkan agar masyarakat hidup tidak sekadar mlaku (bergerak). Namun juga harus didasari lelaku (olah rasa dan batin) karena semua itu, berkaitan dengan Yang Maha Kuasa," pungkasnya. (din)

Sumber: Tribun Jateng
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved