Agustus 2019 Jateng Inflasi 0,33 Persen, Tertinggi Ada di Kudus

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Tengah mencatat, pada bulan Agustus 2019 terjadi inflasi sebesar 0,33% dengan Indeks Harga Konsumen (IHK)

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Tengah mencatat, pada bulan Agustus 2019 terjadi inflasi sebesar 0,33% dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 136,14.

Adapun Inflasi di Jateng Agustus 2019 utamanya terjadi di empat kota yaitu Cilacap, Purwokerto, Semarang, dan Kudus.

Sementara di dua Kota lainnya yaitu Surakarta dan Tegal mengalami Deflasi.

Kepala BPS Provinsi Jateng, Sentot Bangun Widoyono menuturkan, inflasi tersebut terjadi karena kenaikan indeks pada enam kelompok pengeluaran yaitu dari kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar sebesar 0,76%.

Diikuti kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga sebesar 0,73%. Kelompok sandang sebesar 0,55%, kelompok bahan makan sebesar 0,23%, kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,14%, serta kelompok kesehatan sebesar 0,06%.

3 Desa di Kabupaten Pati Jadi Sasaran Teror Penembakan, Rumah Kantor hingga Mobil Jadi Sasaran

Inilah Perbandingan Vivo S1 dan Realme X, Pilih Mana?

Sutini Harus Berjalan Kaki 2 Kilometer Hanya Untuk Mandi

5 Tersangka Segera Sidang, Kejati Jateng Bidik Pimpinan BRI Purbalingga dalam Kasus Kredit Fiktif

"Penyebab utama inflasi Jawa Tengah Agustus 2019 karena naiknya harga tarif air minum PAM, cabai rawit, cabai merah, tarif parkir, dan beras. Sedangkan penahan laju inflasi adalah turunnya harga bawang merah, angkutan udara, angkutan antar kota, bawang putih, dan tomat sayur," tutur Sentot, pada Tribunjateng.com, Senin (2/9/2019).

Kota kudus mengalami inflasi tertinggi yaitu sebesar 0,82% dengan IHK sebesar 144,56. Diikuti inflasi di kota Semarang sebesar 0,47% dengan IHK sebesar 136,02, kota Purwokerto sebesar 0,42% dengan IHK sebesar 134,79 dan inflasi terendah di Cilacap sebesar 0,33%.

"Inflasi di Kota Kudus terjadi karena adanya kenaikan harga cabai rawit, beras, cabai merah, sekolah dasar, dan pasir.

Sedangkan komoditas yang menahan laju inflasi antara lain bawang merah, tomat sayur, bawang putih, nangka muda, dan televisi berwarna," jelasnya.

Ditambahkan, Deflasi yang terjadi di kota Surakarta disebabkan turunnya tarif angkutan udara, petai, bawang putih, tomat sayur, dan bawang merah.

Sedangkan Kota Tegal mengalami Deflasi karena turunnya harga bawang merah, angkutan antar kota, teh, cabai merah, dan semangka.

"Deflasi di Kota Surakarta sebesar 0,16% dengan IHK 132,18 dan Kota Tegal sebesar 0,02% dengan IHK sebesar 134,22," pungkasnya. (dta)

Penulis: Desta Leila Kartika
Editor: muh radlis
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved