Bupati Pekalongan Asip Kholbihi : Goro Suro, Nguri-nguri Budaya Jawa

Sebagai orang Jawa namun kadangkala sering lupa pada jati diri budaya orang Jawa atau dikenal dengan Sangkan Parani Dumadi

Bupati Pekalongan Asip Kholbihi : Goro Suro, Nguri-nguri Budaya Jawa
ISTIMEWA
Bupati Pekalongan Asip Kholbihi (tengah) saat menghadiri acara Goro Suro Tahun Baru 1953 Jawa di Desa Legokkalong Kecamatan Karanganyar, Senin (2/9/2019) malam. 

TRIBUNJATENG.COM, KAJEN - Sebagai orang Jawa namun kadangkala sering lupa pada jati diri budaya orang Jawa atau dikenal dengan Sangkan Parani Dumadi

Oleh karena itu Pemerintah Kabupaten Pekalongan dalam memperingati Hari Jadi ke-397 menggelar kirab budaya dengan tema Wahyu Temurun.

"Meskipun ada beberapa kekurangan namun hal ini merupakan ikhtiar kita dalam rangka nguri-nguri budaya Jawa," kata Bupati Pekalongan Asip Kholbihi usai menghadiri acara Goro Suro Tahun Baru 1953 Jawa di Desa Legokkalong Kecamatan Karanganyar, Senin (2/9/2019) malam.

Bupati menyampaikan ucapan terima kasih kepada para penganut kepribaden untuk mempertahankan budaya Jawa agar tetap eksis.

Sebagai bukti, Pemkab Pekalongan mengapresiasi dengan mengajak mereka untuk turut dalam kegiatan doa bersama antar umat beragama pada Peringatan Hari Jadi Kabupaten Pekalongan ke-397.

Menurut Bupati Asip dengan berkebudayaan itu penting dalam rangka mengasah nurani pikiran, agar tidak menjadi orang yang suka menang sendiri.

Dalam falsafah Jawa dikenal dengan karakter adigang adigung adiguno.

"Padahal jika kita mampu mengalahkan sifat adigang adigung adiguno akan timbul sifat lemah lembut, sopan santun, ngluruk tanpo bolo, menang tanpo ngasorake," ungkapnya.

Asip menjelaskan menguri-nguri budaya untuk megembalikan identitas kita sebagai orang Jawa.

Ada sebuah tulisan, disebutkan bahwa Jawa sebagai pulau terindah di dunia sehingga banyak orang yang mengunakan Java sebagai nama Jalan. Contohnya di Negara Israel, Prancis, Rusia, Amerika disana ditemukan Jalan Java.

"Mereka mengapresiasikan dalam bentuk jalan dikarenakan kita dikenal sebagai ras yang entengan atau rajin. Ini karunia Allah SWT yang luar biasa bagi kita," ujarnya.

Oleh karena itu, dalam rangka penghormatan tahun baru Jawa ini pihaknya mengajak semua untuk menguri-uri budaya karena kalau bukan kita siapa yang akan merawat.

"Sebagai ikhtiarnya setiap hari Kamis pada kegiatan pemerintahan, kita mengunakan bahasa Jawa dalam upacara maupun kegiatan pemerintahan lainnya. Dan ini menjadi role model agar budaya tetap eksis ditengah gempuran arus globalisasi yang dapat menghilangkan jati diri," tuturnya.

Bupati Asip berharap agar kegiatan Goro Suro ini terus-menerus dilakukan turun-temurun sebagai iktiar dalam menjaga tradisi budaya Jawa.

"Hal ini, sebagai pengingat bahwa orangtua kita dahulu memiliki penanggalan Jawa atau pranatan yang pantas disandingkan dengan penanggalan lainnya. (Dro)

Penulis: Indra Dwi Purnomo
Editor: galih permadi
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved