Ngopi Pagi

Fokus : Isi Tas Mbah Cipto

Cipto Wiyono Sukijo, kakek 75 tahun asal Banaran, Sambungmacan Sragen. Orang lebih akrab menyapa dia Mbah Cipto, profesi pengemis.

Fokus : Isi Tas Mbah Cipto
tribunjateng/bram
Muslimah wartawan tribunjateng.com 

Oleh Muslimah

Watawan Tribun Jateng

Namanya Cipto Wiyono Sukijo, kakek 75 tahun asal Banaran, Sambungmacan Sragen. Orang lebih akrab menyapa dia Mbah Cipto, profesi pengemis.

Mbah Cipto ini pada Rabu (28/8) ditangkap Satpol PP yang tengah menggelar razia. Dan ternyata, sebelumnya ia juga beberapa kali tertangkap, diserahkan kepada Dinas Sosial (Dinsos), dilepas, kembali menjadi pengemis dan tertangkap lagi. Seperti itulah tampaknya siklus yang dilakoni Mbah Cipto.

Namun untuk penangkapan yang terakhir, berita tentang Mbah Cipto menjadi heboh gara-gara isi tasnya. Saat itu Mbah Cipto tidak langsung diserahkan ke Dinsos, melainkan lebih dulu dikirim ke RSJ karena sikapnya yang dinilai lain dari biasanya. Tasnya tertinggal dan para petugas Satpol PP iseng membukanya.

Mereka menemukan sekitar sembilan plastik berisi uang tunai Rp 12 juta. Adapula deposito yang nilainya mencapai Rp 25 juta. Jadi total uang yang dimiliki Mbah Cipto Rp 37 juta. Jumlah yang cukup besar bukan?

Cerita tentang pengemis yang memiliki uang puluhan juta tentu bukan kali ini saja terjadi. Khusus Jateng, di bulan Januari 2019 lalu, kita bahkan dihebohkan dengan
berita pengemis yang memiliki kekayaan fantastis, yakni Legiman.

Pengemis di Pati ini kepada Satpol PP mengaku punya kekayaan sekitar Rp 1 Miliar! Diantaranya berwujud uang tunai, tanah, dan tabungan.

Berita tentang Legiman ini sempat membuat masyarakat merasa getir, bahkan ada yang berkomentar:"Mending jadi pengemis, bisa kaya raya hanya bermodal wajah
memelas, daripada kerja banting tulang tapi gaji tak seberapa."

Pengemis biasa berkeliaran di perkotaan, pinggiran jalan, lampu merah, pasar, hingga ada yang nekat datang ke rumah warga untuk meminta-minta.

Karena identik dengan orang yang tingkat ekonominya sangat rendah, pengemis biasanya berpakaian kotor dan lusuh, kulit terbakar sinar matahari dan tentu saja memasang wajah memelas demi mengundang rasa iba.

Mengemis memang bukan sesuatu yang rendah jika itu memang pilihan terakhir. Artinya yang layak menjadi pengemis adalah mereka benar-benar fakir, sangat sengsara dan membutuhkan, hingga mereka yang terlilit utang.

Sayangnya, sekarang banyak pengemis yang berkedok kemalasan. Mengemis dijadikan sebagai profesi untuk menjamin kelangsungan hidupnya, tanpa ada upaya untuk mencari pekerjaan lain. Semangat menjadi pengemis makin besar karena dari situ mereka bisa menghasilkan nominal yang cukup besar.

Tentu saja, saat ini pemerintah terus berupaya meminimalisir pengemis dengan berbagai upaya mereka. Sebagai warga yang baik, yang bisa kita lakukan adalah menjadi lebih bijak saat bersedekah sehingga uang yang diberikan tepat sasaran. Jangan sampai sedekah yang niatnya tulus dan ikhlas justru merusak mental dan membuat mereka terus terbiasa untuk meminta-minta. (*)

Penulis: muslimah
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved