Ngopi Pagi

Fokus : Bukan Salah Media Sosial

Mungkin, tak pernah dibayangkan Mark Zuckerberg jika Facebook menjadi media sosial yang akan digunakan menyebarkan hoaks dan merundung.

Fokus : Bukan Salah Media Sosial
tribunjateng/grafis/bram
RIKA IRAWATI wartawan Tribun Jateng 

Rika Irawati
Wartawan Tribun Jateng

Mungkin, tak pernah dibayangkan Mark Zuckerberg jika Facebook menjadi media sosial yang akan digunakan menyebarkan hoaks dan merundung.

Saat menciptakan bersama empat teman sekamarnya yang sesama mahasiswa Universitas Harvard, Mark hanya ingin membuat situs web yang dapat menghubungkan orang-orang didalam kampus itu.

Kalaupun ada berita bohong yang diunggah atau disebarkan, niatnya mungkin sekadar olokan atau guyon ala mahasiswa. Dampaknya, ya hanya di lingkungan kampus.

Begitu pula dengan Jack Dorsey, sarjana Universitas New York yang menciptakan Twitter karena ingin ada layanan pesan singkat untuk berkomunikasi dengan sebuah kelompok kecil.

Tak heran, di awal kemunculannya di Indonesia, aplikasi ini banyak digunakan pengusaha atau motivator yang memiliki banyak pengikuti alias follower. Dengan begitu, mereka mudah menyampaikan kebijakan atau pemikiran tepat kepada sasaran.

Sama halnya dengan Jan Koum dan Brian Acton yang melahirkan Whatsapp. Mereka mungkin tak pernah mengira, pengembangan layanan pesan singkat ini lewat fasilitas grup akan membuat sebaran informasi berbumbu 'meneruskan dari grup sebelah' atau 'info A1' bisa menimbulkan pertengkaran keluarga.

Bahkan, di grup keluarga, anak tak berani mengingatkan sang ibu yang aktif menyebarkan kabar dari 'grup sebelah' yang belum terkonfirmasi kebenarannya karena takut kualat, khawatir muncul perdebatan, atau sekadar guyon, takut dicoret dari kartu keluarga.

Melihat besarnya efek yang mampu dilakukan media sosial itu membuat media massa, khususnya media massa daring, juga mulai memanfaatkan. Mereka menambahkan fitur share di kanal web agar berita yang mereka unggah bisa langsung dibagikan pembaca kepada orang lain lewat media sosial mereka.

Mereka juga mempekerjakan secara khusus tim media sosial untuk mengunggah tautan berita tertentu. Biasanya, ditambah narasi yang diharapkan bisa membuat pengikut di media sosial makin tertarik membaca kemudian menyebarkan.

Halaman
12
Penulis: rika irawati
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved