Ambengan Malam 10 Suro di Mushola Al Ikhlas Ngaliyan, Warga Santap Nasi Rames 5 Lauk

Mereka tak merisaukan seberapa mahal makanan, seberapa mewah menunya di tempat lain, yang jelas seberapa dekat kebersamaan yang dapat terjalin

Ambengan Malam 10 Suro di Mushola Al Ikhlas Ngaliyan, Warga Santap Nasi Rames 5 Lauk
Tribunjateng.com/Saiful Ma'sum
AMBENGAN SURO: Jamaah Musala Al Ikhlas Ngaliyan Semarang menyantap nasi rames usai doa bersama pada malam 10 bukan Suro (Muharram), Senin (9/9/2019) malam. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Banyak cara yang bisa dilakukan masyarakat Kota Semarang dalam rangka memperingati malam 10 bulan Suro (Muharram).

Selain berdoa pada setiap masjid, musala, maupun majelis-majelis, kebanyakan dari mereka juga menggelar selametan sebagaimana adat kejawen sebagai lantaran meminta kesehatan dan keberkahan kepada Yang Maha Kuasa.

Ada satu menu yang populer di telinga masyarakat dan hanya ada di bulan Suro 'bubur suro', namun Musala Al Ikhlas Ngaliyan punya cara sendiri untuk tampil berbeda dari pada lainnya.

Musala yang baru berdiri kembali 2 tahun terakhir pasca penggusuran jalan tol Semarang-Batang itu, memperingati malam 10 Suro sebagaimana warga lain merayakan.

Pembacaan Surah Yasin, dzikir dan ditutup dengan doa bersama pun mewarnai sepenggal waktu Magrib menuju Isya.

Nah, hal yang berbeda adalah selametan beralaskan daun pisang. Di atas daun pisang itu tertata rapi nasi putih lengkap dengan 5 macam lauk yang mereka sebut "ambengan ramesan".

Nasi hangat, kering tempe, mie goreng, ongseng kacang, sambal goreng teri, dan juga telor dadar menjadi santapan tidak kurang 60 jamaah yang hadir.

Mereka tak merisaukan seberapa mahal makanan, seberapa mewah menunya di tempat lain, yang jelas seberapa dekat kebersamaan yang dapat terjalin.

Sang pengasuh Musala sekaligus Imam Salat, Ustadz Nur Rifa'i menyampaikan, inilah cara dirinya untuk terus berusaha ngrumati (merawat) jamaah agar tetap senang, bahagia, dan nyaman dalam memakmurkan tempat ibadah di lingkungannya.

"Ambengan suro Musala Al Ikhlas tentu sangat seru, menyenangkan, bahkan mengakrabkan di antara para jamaah. Mereka bisa duduk dan makan bersama ala tradisi para wali yaitu nasi lauk beralas daun yang dimakan berhadap hadapan," tuturnya di sela acara, Senin (9/9/2019).

Adapun untuk memaknai malam 10 Suro sendiri, dirinya senantiasa mengajak jamaah untuk berdoa bersama memohon tetap Iman dan Islam, kesehatan jasmani rohani, dilancarkan riski yang halal dan baik, dan tak lupa muhasabah dan bersedekah sebagai tanda syukur untuk menambah amal kebaikan.

"Diingatkan juga untuk menyantuni anak yatim sebagai tanda kasih sayang yang In Sya Allah akan diganjar pahala yang berlipat serta diangkat derajat kita, Amin," pungkasnya. (Sam)

Penulis: Saiful Ma'sum
Editor: muslimah
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved