Kasus Pencurian Kayu di Pati, Leles Divonis 14 Bulan Penjara

Setelah melalui rangkaian persidangan, Leles (36), warga Desa Srikaton, Kecamatan Jaken divonis penjara 1 tahun 2 bulan oleh Majelis Hakim Pengadilan

Kasus Pencurian Kayu di Pati, Leles Divonis 14 Bulan Penjara
TRIBUN JATENG/MAZKA HAUZAN NAUFAL
Sidang pembacaan vonis kasus pencurian kayu di Pengadilan Negeri Pati, Selasa (10/9/2019). 

TRIBUNJATENG.COM, PATI – Setelah melalui rangkaian persidangan, Leles (36), warga Desa Srikaton, Kecamatan Jaken divonis penjara 1 tahun 2 bulan oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Pati, Selasa (10/9/2019).

Leles adalah warga Desa Srikaton yang mendekam di tahanan sejak 6 Mei 2019 lalu atas kasus pencurian kayu. Ia dibui setelah dilaporkan Kepala Desa Srikaton Endah Dwi Winarni.

Leles dilaporkan telah menebang dan menjual lima pohon jati dan satu pohon nangka tanpa seizin Endah sebagai pemegang sertifikat tanah.

Berdasarkan fakta persidangan, majelis hakim menilai Leles terbukti bersalah atas kasus pencurian kayu tersebut.

Hakim Ketua Lisfer Berutu yang didampingi hakim anggota Grace Meilanie dan Rida Nur Karima saat persidangan mengatakan, vonis tersebut dijatuhkan setelah adanya berbagai pertimbangan oleh majelis hakim beserta bukti-bukti dan keterangan para saksi.

Vonis itu akan dipotong dengan masa penahanan yang telah dijalani Leles selama proses penyidikan dan persidangan.

“Berdasarkan terpenuhinya unsur-unsur dalam pasal 362 KUHP dan pertimbangan yang ada, terdakwa Leles terbukti melanggar hukum dengan putusan kurungan selama satu tahun dua bulan,” ujar Lisfer.

Usai putusan dibacakan, Hakim Ketua kemudian meminta Leles untuk berkonsultasi dengan kuasa hukum. Majelis hakim memberinya waktu lima hari untuk menanggapi putusan tersebut.

"Saudara Leles punya waktu lima hari untuk mempertimbangkan putusan ini, apakah menerima atau banding,” ujarnya.

Sebelum putusan, Hakim Ketua juga membacakan ihwal pertimbangan yang memberatkan dan meringankan terdakwa. Berdasarkan pemaparannya, hal yang memberatkan terdakwa atas kasus pencurian itu adalah karena perbuatannya telah meresahkan masyarakat. Adapun pertimbangan yang meringankan terdakwa, selama persidangan terdakwa dinilai bersikap sopan. Selain itu, terdakwa juga memiliki tanggungan keluarga.

“Pada saat persidangan, terdakwa memberikan keterangan yang berbelit, sehingga mempersulit persidangan. Terdakwa juga sudah pernah berdamai, tetapi terdakwa keberatan dan mencabutnya kembali,” terangnya.

Sementara itu, satu dari empat kuasa hukum Leles, Moh Agus Prasetiyo mengatakan, pihaknya akan melakukan kajian terlebih dahulu terkait putusan tersebut. Mereka akan mengkonsultasikannya dengan Leles. Jika Leles setuju melakukan banding, maka akan diadakan banding.

“Kami ada upaya banding. Ini jalan ikhtiar dalam mencari keadilan. Tapi jika saudara terdakwa sudah terima dengan putusan, maka kami tidak lakukan banding,” jelasnya usai persidangan.

Pada sidang putusan itu, puluhan warga desa Srikaton datang ke Pengadilan dengan menggunakan dua kendaraan truk. Hal itu untuk memberikan dukungan terhadap keluarga Leles.

Untuk diketahui, tanah di mana Leles menebang kayu, sebelum berpindah kepemilikan, dahulunya ialah milik Almh. Ngasrinah, nenek Leles. Adapun berdasarkan dokumen yang ada, Kades Srikaton Endah Dwi Winarni membeli tanah tersebut dari Almh. Ngasrinah pada 2014, dan sertifikat tanah atas namanya terbit pada 2015. Sertifikat tersebut menjadi alat bukti yang menguatkan tuntutannya dalam persidangan.

Namun, warga pendukung Leles meyakini bahwa ada manipulasi yang dilakukan Endah atas terbitnya sertifikat tanah tersebut.

Ketika diwawancarai 1 Agustus 2019 lalu, Koordinator "Aliansi Warga Srikaton Jaken Pati Jawa Tengah Tolak Kriminalisasi Kang Leles" Sudarko menegaskan, ia bersama mayoritas warga meyakini bahwa nenek Leles tidak pernah menjual tanahnya pada Endah. Warga meyakini, surat perjanjian jual-beli yang dimiliki Endah adalah hasil rekayasa.

Dihubungi, Selasa (10/9/2019) malam, anggota tim kuasa hukum Leles, Bowo Setiyadi mengungkapkan hal senada.

"Sebagai kuasa hukum, kami tidak menuduh Kades Srikaton Endah Dwi Winarni telah melakukan kecurangan. Namun, ada beberapa fakta persidangan yang kami temukan, yang memperkuat keyakinan warga bahwa ada maladministrasi dalam proses pembelian tanah," ungkapnya. (Mazka Hauzan Naufal)


Penulis: Mazka Hauzan Naufal
Editor: galih permadi
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved