Kunjungi GOR PB Djarum, Moeldoko Pamerkan Prestasinya di Akabri

epala Staf Kepresidenan Indonesia, Moeldoko, berkunjung ke GOR PB Djarum Jati Kudus, Kamis (12/9/2019).

rifqi gozali
Kepala Staf Kepresidenan Indonesia, Moeldoko (baju putih) saat berbincang dengan atlet binaan PB Djarum di GOR Djarum Jati Kudus, Kamis (12/9/2019). 

TRIBUNJATENG.COM, KUDUS – Kepala Staf Kepresidenan Indonesia, Moeldoko, berkunjung ke GOR PB Djarum Jati Kudus, Kamis (12/9/2019).

Dalam kunjungannya kali ini untuk memastikan tidak eksploitasi seperti yang ditudingkan oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).

Orang yang pernah menjabat sebagai Panglima TNI periode 2013-2015 itu disambut langsung oleh Program Director Bakti Olahraga Djarum Foundation, Yoppy Rosimin.

Moeldoko juga menyempatkan menobrol dengan sejumlah atlet binaan PB Djarum. Selain itu dia juga diajak keliling ke GOR untuk melihat segala fasilitas yang ada. Mulai dari fasilitas latihan, dapur umum, sampai asrama atlet.

Di hadapan atlet, Moeldoko juga memberi semangat agar mereka terus berlatih supaya mereguk prestasi skala internasional. Semangat yang diutarakan Moeldoko tidak jauh dari pengalamannya semasa menempuh pendidikan di Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Akabri).

“Kalian harus semangat. Saya sampai jadi panglima karena punya semangat kuat. Saya dulu di Akabri nomor satu,” ujar pria kelahiran Desa Pesing, Kecamatan Purwosari, Kediri.

Setelah melihat segala fasilitas yang ada di PB Djarum dan mendapat keterangan terkait segala program yang ada di Djarum Foundation, Moeldoko menyimpulkan, bahwa tudingan yang dialamatkan oleh KPAI tidak benar.

“Ya saya melihat langsung. Awalnya saya mendengar ada pernyataan yang mengagetkan dari KPAI. Itu saya melihat langsung ke lapangan dan saya mengecek satu per satu apakah ada sebenarnya kata-kata eksploitasi itu, (ternyata) tidak ada,” katanya.

Menurutnya, di PB Djarum tidak ada unsur eksploitasi dari segi apa pun. Justru, ujarnya, di PB Djarum atlet binaannya dididik untuk menjadijuara

“Tidak ada pemanfaatan dari sisi apapun. Justru di sini adalah bagaimana mengeksploitasi kemampuan untuk menjadi seorang juara. Jadi jangan dibalik-balik kata eksploitasinya.

Di sini eksploitasi positif ya untuk mendapatkan juara. Tidak ada juara yang tanpa kerja keras. Tapi kan, jangan dimaknai bahwa ada sebuah eksploitasi, ndak, ndak ada eksploitasi,” ucapnya.

“Tapi, untuk menjadi seorang juara memang harus seperti ini. Tidak ada latihan yang lembek untuk menjadi seorang juara. Tapi tadi semua (atlet) saya tanya satu per satu, ya merasa happy, merasa senang, merasa bangga, merasa bagian dari impiannya bisa terwujud. Impian besarnya nanti akan datang apabila pelatihan di sini nanti diikuti dengan baik dan semuanya telah dipersiapkan di sini,” imbuhnya. (*)

Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved