Babahe : Literasi di Negeri Ini Adalah Tanggung Jawab Kita Semua

Beberapa tahun terakhir ini, pemerintah, swasta, organisasi sosial dan aktivis terus menggalakan literasi di seluruh penjuru negeri.

Babahe : Literasi di Negeri Ini Adalah Tanggung Jawab Kita Semua
TRIBUN JATENG/MOCH SAIFUDIN
Purnama di Koruki membincang rasan-rasan literasi di Desa Gebyok, Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Demak 

TRIBUNJATENG.COM, DEMAK - Beberapa tahun terakhir ini, pemerintah, swasta, organisasi sosial dan aktivis terus menggalakan literasi di seluruh penjuru negeri.

Kampanye gerakan literasi dilakukan karena masih banyak masyarakat yang belum bisa membaca, menulis maupun berhitung (calistung).

Menurut Widyo Leksono gerakan literasi di Indonesia merupakan gerakan moral yang menjadi tanggungjawab bersama selaku warga negara Indonesia.

"Selama KTP kita masih WNI, maka literasi di negeri ini jadi tanggungjawab kita semua.

Literasi bisa dimulai dengan membangun gerakan calistung lingkungan sendiri.

Kita tidak bisa sendiri, harus bersama sama," kata Widyo Leksono yang akrab disapa Babahe, saat menjadi narasumber dalam diskusi bertema Rasan - rasan Literasi di Komunitas Rumah Kita (Koruki) Demak, Minggu (15/9/2019) malam.

Banyumas Kembali Terima Penghargaan Wahana Tata Nugraha, Bupati : Berkat Sinergi Semua Pihak

Panti Asuhan di Demak Ini Tampung Korban Penyalahgunaan Narkoba dan Minuman Keras di Bawah Umur

Ini Kesalahan Mendasar Para Pengguna Mobil BMW dalam Berkendara

Komunitas Alzi Semarang Deteksi Sederhana Gejala Demensia, Cukup Menggambar Jam

Rasan - rasan literasi yang menjadi tema acara Purnama di Koruki itu , dihadiri sejumlah kalangan baik guru, dosen, karyawan, pelajar, mahasiswa hingga seniman.

Acara diskusi yang dikemas santai itu berlangsung cair.

Para audien menyampaikan gerakan literasi di daerahnya masing-masing.

Menurut Babahe, gerakan literasi bisa diawali dengan mengajak masyarakat putus sekolah atau warga kampung di sekitar kita untuk belajar membaca dan menulis.

"Kita mulai dari hal yang paling sederhana, misalnya warga kita ajari menulis sejarah, menulis cerita dan membaca, termasuk membaca kahanan (keadaan) di lingkungan kita," ujar Babahe seniman nyentrik Kota Semarang.

"Tapi ingat, belajar harus menyenangkan dan sabar.

Ora usah grusa - grusu (tidak cepat - cepat)," kata dia lagi. (Tribunjateng/Moch Saifudin)

Penulis: Moch Saifudin
Editor: muh radlis
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved