Nasripah Malu dan Takut Kena Azab Tuhan, Berniat Mengundurkan Diri Sebagai Penerima PKH di Pemalang

Meskipun labelisasi baru dilaksanakan tiga hari, namun sejumlah warga yang perekonomiannya menengah serta menjadi penerima bantuan, mengundurkan diri.

Nasripah Malu dan Takut Kena Azab Tuhan, Berniat Mengundurkan Diri Sebagai Penerima PKH di Pemalang
TRIBUN JATENG/BUDI SUSANTO
Labelisasi yang dilakukan pihak Desa Tundagan, Kecamatan Watukumpul, Kabupaten Pemalang ke rumah penerima bantuan PKH, Selasa (17/9/2019). 

TRIBUNJATENG.COM, PEMALANG - Labelisasi untuk menyadarkan warga mampu agar tidak menerima bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) di Desa Tundagan, Kecamatan Watukumpul, Kabupaten Pemalang, cukup membuahkan hasil.

Meskipun labelisasi baru dilaksanakan tiga hari, namun sejumlah warga yang perekonomiannya menengah serta menjadi penerima bantuan, berniat mengundurkan diri.

Pasalnya mereka malu karena rumahnya diberikan label menggunakan cat bertuliskan keluarga miskin penerima bantuan, lengkap beserta pedihnya azab Tuhan.

Seperti yang diungkapkan Nasripah dan Marno, pasangan suami istri (pasutri) itu tidak mau keluarganya dianggap keluarga miskin dengan labelisasi.

“Kami sudah mampu. Jadi rumah kami tidak perlu diberi label. Malu juga ada tulisan seperti itu di rumah."

"Kami berniat mengundurkan diri menjadi peserta penerima bantuan PKH,” jelas Nasripah, Selasa (17/9/2019).

Keluarga Nasripah merupakan keluarga penerima manfaat PKH sejak 2015, yang mendapatkan bantuan untuk biaya sekolah anak mereka.

“Sekarang anak kami sudah lulus. Jadi tidak perlu lagi mendapat bantuan."

"Bantuan yang kami terima bisa dialihkan ke warga yang lebih berhak,” tuturnya.

Sementara itu, Muslim warga lainnya mengatakan, tak malu rumahnya dilabelisasi karena kondisi perekonomiannya benar-benar tidak mampu.

“Kenapa harus malu. Kenyataannya kondisi perekonomian keluarga saya benar-benar kekurangan."

"Jadi tidak masalah jika dilabelisasi. Kecuali kami mampu baru, kami malu,” imbuhnya.

Ia menambahkan, adanya labelisasi justru membantu masyarakat yang benar-benar membutuhkan.

“Kalau keluarga yang membutuhkan dilabelisasi maka benar adanya mereka kekurangan."

"Yang kebangetan ya yang sudah mampu namun tidak malu menerima bantuan untuk keluarga miskin,” tambahnya. (Budi Susanto)

Penulis: budi susanto
Editor: deni setiawan
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved