Minimalisir Penurunan Permukaan Tanah, Pemprov Jateng Klaim Miliki Aturan Larangan Sedot Air Tanah

Penurunan permukaan tanah atau land subsidence terjadi di beberapa daerah di pesisir pantai utara Jateng.

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Penurunan permukaan tanah atau land subsidence terjadi di beberapa daerah di pesisir pantai utara Jateng.

Kota Semarang disebut yang paling parah lantaran tenggelam 15 sentimeter pertahun.

Akibatnya, banjir dan rob sering melanda.

Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jawa Tengah, Sujarwanto Dwiatmoko, mengatakan pemicu penurunan tanah beragam.

Yakni ekstraksi air tanah, beban bangunan, dan kompaksi secara alamiah.

"Secara formal, telah dikeluarkan Peraturan Gubernur (Pergub) soal pengambilan air tanah yang merupakan faktor penyebab turunnya permukaan tanah," kata Sujarwanto, Rabu (18/9/2019).

Pembinaan Olahraga di Kabupaten Pekalongan Kian Terpuruk, Uang Pembinaan Atlet Hanya Rp 76 Ribu

Tim RPP Undip Kembangkan Drone Pengangkut Pupuk Pertanian, Bisa Sirami Lahan Hingga 8 Hektar

Kak Seto Hadiri Pelantikan IGTKI-PGRI Demak, Ini Harapan Bupati

Siap-siap, Polres Purworejo Akan Tarik Senjata Api Personelnya yang Tidak Lulus Psikotest

Pasalnya, selama ini telah terjadi eksploitasi air tanah besar- besaran.

Meski, pengambilan air tanah hanya menyumbang sedikit faktor penyebab, namun upaya pembatasan dilakukan untuk meminimalisir land subsidence.

Beleid yang dikeluarkan itu tentang larangan mengambil air tanah di daerah yang dinilai merah atau terjadi penurunan parah serta memasuki lebel berbahaya.

Misalnya, di Semarang Selatan.

Halaman
12
Penulis: mamdukh adi priyanto
Editor: muh radlis
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved