Ngopi Pagi

Fokus : "Warisan" Untuk Pimpinan Baru KPK

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus menunjukkan kinerja profesionalnya. Terbaru lembaga antirasuah tersebut menersangkakan Menteri Pemuda

Fokus :
tribunjateng/cetak/grafis bram kusuma
GALIH Pujo Asmoro wartawan Tribun Jateng

Oleh Galih Pujo Asmoro

Wartawan Tribun Jateng

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus menunjukkan kinerja profesionalnya. Terbaru lembaga antirasuah tersebut menersangkakan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Imam Nahrawi. Imam diduga menerima duit Rp 26,5 miliar terkait dana hibah KONI.

Imam langsung bereaksi setelah jadi tersangka. Ia berharap hal itu bermuatan politis. "Saya berharap ini bukan sesuatu yang bersifat politis. Saya berharap ini bukan sesuatu yang bersifat di luar hukum. Dan karenanya saya akan menghadapi dan tentu kebenaran harus dibuka seluas-luasnya," kata Imam.

Selain itu, Imam juga telah mengajukan pengunduran dirinya sebagai Menpora, Kamis (19/9) kemarin. Ia menyampaikan permintaan maafnya pada Presiden Jokowi, Wapres Jusuf Kalla, PKB dan PBNU. Di sisi lain, Imam memastikan tidak akan lari dan mengikuti semua proses hukum terhadap dirinya.

Wakil Ketua KPK Alexander Mawarta memastikan tidak ada unsur politis dalam status yang disandang Imam. "Itu tidak ada motif politik sama sekali. Jika motif politik diumumin sejak ribut-ribut kemarin. Nggak ada," kata dia.

Belakangan ini, isu mengenai upaya pelemahan KPK beredar kencang. Mulai dari Panitia Seleksi (Pansel) Calon Pimpinan KPK diumumkan, nama-nama yang disodorkan ke Presiden Jokowi, fit and proper test di DPR hingga akhirnya ada lima nama yang terpilih jadi pimpinan KPK periode 2019-2023 mendatang. Dan terakhir adalah disahkannya revisi UU KPK yang dituding bisa melemahkan lembaga tersebut.

Namun dalam hal ini, saya setuju dengan pendapat Mahfud MD yang meminta masyarakat tidak underestimate dengan lima pimpinan KPK yang baru. Menurutnya, pimpinan KPK periode saat ini, 2015-2019, juga banyak yang meragukan. Buktinya, kata Mahfud, kinerja pimpinan KPK saat ini cukup bagus. Hal yang membuat pimpinan bisa memiliki kinerja bagus adalah lingkungan.

Kasus yang menjerat Menpora Imam Nahrawi saat ini akan jadi pembuktian awal kinerja piminan KPK ke depan. Lantaran hampir bisa dipastikan, jika kasus ini bakal jadi "warisan" dari pimpinan KPK saat ini ke Firli Cs yang akan memimpin KPK hingga empat tahun mendatang. Kasus Imam adalah "berkah" bagi pimpinan KPK periode mendatang untuk membuktikan kinerjanya.

Karena itulah saya pribadi yakin, mereka akan berusaha keras membuktikan apa yang disangkakan terhadap Imam. Jika didukung bukti kuat, pimpinan KPK periode mendatang tidak akan mempertaruhkan kredibilitasnya. Setelah UU Nomor 30 Tahun 2002 Tentang KPK direvisi, lembaga tersebut bisa menerbitkan surat perintah penghentian penyidikan (SP3) atas kasus korupsi yang tak tuntas dalam dua tahun.

Di sisi lain, Selain itu, dukungan dan pengawasan masyarakat juga sangat diperlukan agar pimpinan KPK mendatang bekerja maksimal dalam memberantas korupsi. Di era keterbukaan seperti sekarang ini, hampir semua orang di Indonesia bisa mengawasi kinerja KPK. Jika kinerja mereka tidak sesuai ekspektasi, suara sumbang tentu akan makin sering terdengar. Bukan hanya pada pimpinan KPK semata, namun juga pada lembaga lain yang telah meloloskan mereka.

Penulis: galih pujo asmoro
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved