Opini Ali Damsuki : Kontroversi Film “The Santri”

Perkembangan perfilman Indonesia semakin kian “meroket”. Hal ini dibuktikan dengan adanya nominasi film Indonesia yang masuk dalam beberapa kategori

Opini Ali Damsuki : Kontroversi Film “The Santri”
Tribun Jateng
Ali Damsuki 

Oleh Ali Damsuki

Alumnus Program Magister UIN Walisongo Semarang

Perkembangan perfilman Indonesia semakin kian “meroket”. Hal ini dibuktikan dengan adanya nominasi film Indonesia yang masuk dalam beberapa kategori dalam ajang festival di luar negeri. Diantaranya, Gundala (2019) dan Pengabdi Setan (2017) (Joko Anwar), Sekala Niskala (Kamila Andini: 2017), Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak (Mouly Surya: 2017), dan lain sebagainya.

Inilah yang menjadi bukti bentuk visualiasai dalam film memberikan sumbangsih dalam mejukan Indonesia. Danesia (2010: 134) menjelaskan film sebagai sebuah bentuk visualisasi yang mengandung unsur naratik dan sinematik untuk menciptakan ilusi gerakdan citra dalam kehidupan nyata. Gerak citra dam ilusi yang diciptakan dalam sebuah film tentu akan mempengaruhi pola perilaku dan paradigma bagi penontonya. Oleh sebab itu, substansi dan esensi film juga harus diperhatikan dalam proses pembuatan film.

Dogma Liberalis

Munculnya wacana yang beredar terkait dengan paham liberalis yang mulai masuk dunia pesantren melalui bentuk visualiasai film kini mulai beredar. Film yang tanyang perdana dalam bentuk trailer “The Santri” dengan durasi 2. 42 menit ini menuai banyak kontroversi. Film yang disutradarai oleh Living Zheng ini menggandeng Said Aqil Sirad sebagi Ketua PBNU dalam proses produksinya. Selain itu, punggawa yang kontribusi dalam film diantaranya, Wirda Mansur, Veve Zulfikar, Azmi Iskandar, dan Emil Dardak menjadi tokoh yang menjadi citra santri di pesantren.

Konsep dalam film “The Santri “ ini akan mengangkat nilai-nilai kaum santri dan tradisi pembelajaran di pondok pesantren yang berbasis kemandirian kesederhanaan, toleransi serta kecintaan terhadap tanah air.Menurut Imam Pituduh dari NU Channel, The Santri dipersembahkan sebagai wahana untuk menginformasikan dan mengkomunikasikan keberadaan dunia santri dan pesantren yang memiliki pemahaman tentang Islam yang ramah, damai dan toleran dengan komitmen cinta tanah air, serta anti terhadap radikalisme dan terorisme. Serta memotret kehidupan keberagamaan dan komunitas lintas iman, kemudian mempromosikannya (bbcindonesia.com, 2019).

Namun, beberapa hari film trailer tersebut diputar di YouTube melalui NU chanel menuia banyak kontroversi. Secara faktual, hal ini terbukti munculnya banyak kritikan warganet (netizen) yang tidak sepakat dengan munculnya film “The Santri” di bulan Oktober mendatang. Para santri di Indonesia mencoba menolak keras pemutaran film yang dianggap tidak pantas dan tidak layak menjadi citra dalam kehidupan pesantren. Selain itu, banyak ulama’ seperti Buya Yahya, Hanif Alattas sebagai ketua Front Santri Indonesia, serta tokoh lainnya.

Wacana penolakan tersebut tentu didasari pada beberapa scene yang tidak sesuai dengan dinamika kehidupan pesantren yang ada. Diantanya, toleransi berlebihan yang mengharuskan santri masuk gereja dan memberikan tanda selamat, , scene yang menunjukan keadaan berduaan dengan santri putra dan putri dalam keadaan sepi (energibahasa.com, 2019).

Esensi Dinamika Pesantren

Pesantren sebagai inkubator yang melahirkan ilmuan berjiwa agamis, mengalami diskursus intelektual Islam yang berkepanjangan. Diskursus tersebut, mayoritas didominasi oleh intelektual kota yang terdidik dalam Perguruan Tinggi. Dalam masyarakat jawa, pesantren dipandang sebagai “pulau” yang terasing. Pasalnya, masyarakat jawa yang lebih mengandalkan diri dari pada transmisi oral. Selalu disuguhkan beberapa metode keilmuan yang bersifat tekstual. Dengan mengembangkan suatu “pemikiran” yang transmisinya bersifat literal

Apabila kita mengenal pesantren, bahwasanya pesntren merupakan “Ahli Waris” khazanah intelektual Islam yang secara universal dibukukan. Ini menunjukkan bahawasanya pesantren memilki “budaya tulis” yang menjadi sebuah sandaran dari reproduksi intelektual yang sangat kaya sepanjang sejarah. Selain itu, dalam konteks dinamika kehidupan pesantren menjadi titik temu dan tolok ukur masyarakat sebagai kaca yang memberikan kontribusi ‘kaca’ moralitas dan prilaku.

Dinamika pesntren, mengalami berbagai defensial antara kiai, santri, dan masyarakat sekitar. Baik dalam sosial, politik, ekonomi, dan lainnya. Akan tetapi, kondisi tersebut, memberikan citra karisma yang memikat dalam dinamika kehidupan pesantren. Jadi tidak selamanya, dunia pesantren harus “nunut” istilah jawa ; (Ikut) terhadap kiai secara keseluruhan. Dengan perbedaan tersebut, diharapkan para santri juga memberikan kontribusi pemikiran yang berberda dalam menghadapi permasalahan umat.

Konsep Prof. Abdul Halim Soebahar. MA. Dalam bukunyta Modernisasi Pesantren “Studi Transformasi Kepemimpinan kiai dan sistem Pendidikan Pesantren” menjelaskan tentang Pola kehidupan Pesantren Modern. Sebenarnya, Pola kehidupan pesantren termanifestasikan kedalam istilah “Panca Jiwa” yang di dalamnya memuat ilmu jiwa yang harus di wujudkan dalam proses pendidikan dan pembinaan karakter santri. Kelima jiwa tersebut adalah jiwa keikhlasan, jiwa kesederhanaan, jiwa kemandirian, jiwa ukhuwah Islamiyah dan jiwa kebebasan yang bertanggung jawab.Sehingga, hal ini dapat dijadikan pebinaan karakter dan mentalitas bagi santri di pesantren.

Dari konsep inilah kehidupan realitas pesantren yang harus ditonjolkan dalam bentuk visualiasi film yang akan diangkat. Sehingga tidak terjadi pro-kontra terkait dengan triller film “The Santri”. Selain itu, para punggawa-punggawa film juga harus mengetahui secara detail kehidupan dan batas-batas syar’I dalam kehidupan pesantren. Sehingga secara langsung, mereka harus memiliki pengetahuan agama Islam dengan baik, bukan sebalikny. Semoga umat Islam lebih cerdas lagi dalam memilah dan memilih karya untuk mengembangkan dakwah Islamiyah ke depannya. Wallahu’alam bis as-Shawab. (*)

Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved