Asita Jateng Dorong Pengelola Desa Wisata Gencarkan Pemasaran

Pemprov Jateng menargetkan pembentukan 500 desa wisata pada 2019. Sejauh ini, sudah tercapai 229 desa wisata.

Tribun Jateng/Desta
Ketua DPD Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) Jateng, Joko Suratno, saat mengisi diskusi berlokasi di Aston Inn Hotel Semarang, Kamis (26/9/2019). 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Desta Leila Kartika

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Pemprov Jateng menargetkan pembentukan 500 desa wisata pada 2019. Sejauh ini, sudah tercapai 229 desa wisata.

Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Seksi Pengembangan Daya Tarik Wisata Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Jateng, Riyadi Kurniawan, Kamis (26/9/2019).

"Pemerintah optimis capai target tersebut salah satunya dengan membuat Perda khusus Desa Wisata (Perda Jateng nomor 2 tahun 2019, red)," ungkap Riyadi Kurniawan, pada Tribunjateng.com, Kamis (26/9/2019).

Menanggapi hal tersebut, Ketua DPD Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) Jateng, Joko Suratno mengatakan, dari jumlah 229 desa wisata yang sudah pihaknya jual ke beberapa wisatawan asing antaralain kurang lebih sekitar 10 desa wisata yang sering dikunjungi.

"Kami juga selama ini aktif menjual tetapi memang dibutuhkan semacam endorser atau pemasaran melalui internet dari endorser negara lain. Karena hal ini pasti menarik," ungkap Joko.

Sedangkan untuk domestik memang masih korporasi atau menjadi tempat outbound, contohnya seperti Desa Samiran.

"Kami sudah bekerja sama dan mengirim tamu-tamu kami untuk menikmati desa-desa wisata yang ada di Jateng," ujarnya.

Dijelaskan, peluang Desa Wisata pasti ada, karena terbukti Desa Wisata sudah pihaknya jual sebagai paket wisata terintegrasi dengan daya tarik lainnya.

Dicontohkan beberapa wisatawan asing yang reguler dari Singapura mereka justru anak-anak Sekolah.

Pihaknya mengintegrasikan dengan beberapa daya tarik lainnya seperti Borobudur, Desa Wisata Tanon, dan mereka sangat menikmati.

"Peluang Jateng saat ini untuk desa wisata menurut saya pasar yang terdekat adalah Pasar Singapura dan Malaysia. Tetapi untuk peluang domestik pasti lebih besar seperti Lerep, Tanon, dan desa yang ada di Lereng Merapi (Samiran) itu juga sangat potensial," terangnya.

Menurutnya, pihak pengelola desa wisata perlu melakukan pengembangan, tak hanya daya tariknya tapi juga SDM untuk pemasaran.

Semisal bekerjasama dengan beberapa stakeholder, baik dengan media massa, travel agen, media komunikasi internet (youtuber, selebgram, dan lain-lain).

"Saya melihat kalau potensi sudah bagus, daya tarik sudah bagus, kelembagaan sudah bagus, tinggal marketingnya saja bagaimana, saya melihat seperti itu," imbuhnya. (dta)

Penulis: Desta Leila Kartika
Editor: m nur huda
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved