Ingin Tahu Benarkah Kampus Terpapar Radikalisme, Ahmad Muqowam Keliling di Jateng, Hasilnya?

"Saya masuk ke beberapa kampus di Jateng misal Unissula, Untidar Magelang, UNS Solo, Undip, UIN Walisongo."

Ingin Tahu Benarkah Kampus Terpapar Radikalisme, Ahmad Muqowam Keliling di Jateng, Hasilnya?
Tribunjateng.com/Akbar Hari Mukti
FGD membedah paham radikalisme di perguruan tinggi digelar di auditorium FISIP Undip, Semarang, Kamis (26/9/2019). 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Pendidikan deradikalisasi dirasa penting diterapkan di tingkat perguruan tinggi agar mahasiswa maupun tenaga pendidik di perguruan tinggi tersebut tidak terpapar radikalisme.

Wakil Ketua DPD RI Ahmad Muqowam, menjelaskan pendidikan deradikalisasi ini menjadi upaya akademik yang perlu dilakukan oleh pemerintah maupun pemangku pendidikan.

"Intinya adalah agar pemahaman tentang radikalisme hilang dari perguruan tinggi," jelasnya saat ditemui di Auditorium FISIP Undip, Tembalang, Semarang, Kamis (26/9/2019) siang.

Ahmad Muqowam mengaku telah berkunjung ke beberapa kampus di Jawa Tengah.

Menurutnya radikalisme memang tumbuh dan berkembang di lingkungan perguruan tinggi.

"Saya masuk ke beberapa kampus di Jateng misal Unissula, Untidar Magelang, UNS Solo, Undip, UIN Walisongo."

"Saya mencocokkan survey lembaga yang menyebut kampus terpapar radikalisasi itu benar atau tidak. Faktanya beberapa nyata terpapar," ungkap dia.

Maka, upaya-upaya yang bisa membuat mahasiswa atau tenaga pendidik di lingkungan kampus tak lagi terpapar radikalisme perlu segera dilakukan.

Disinggung terkait mengapa radikalisme bisa sampai menjalar ke perguruan tinggi, menurutnya ada beberapa hal yang mendasari.

Contohnya karena isu-isu ekstrim yang ada di dunia termasuk Indonesia.

"Misalnya LGBT, isu penggunaan nuklir. Mereka memandangnya lewat pemahaman tertentu sehingga mereka menjadi intoleran," paparnya.

Sementara juru bicara BIN, Wawan Hari Purwanto yang hadir di kesempatan itu memaparkan penyusupan ajaran radikalisme di lingkungan perguruan tinggi disebabkan karena banyak mahasiswa yang berada dalam masa pencarian jati dirinya.

Sehingga mudah disusupi berbagai pemahaman, termasuk radikalisme.

"Maka kita perlu cek dan ricek. Perlu lihat siapa yang bicara, kekritisan itu dibutuhkan agar masyarakat termasuk mahasiswa bisa lebih cerdas," ungkapnya. (Ahm)

Penulis: akbar hari mukti
Editor: muslimah
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved