OPINI Zulhawary Agustianto: Kemarau Ekstrem, Waspada Rekahan

Di awal penghujung tahun 2019 ini, kita dihadapkan pada kenyataan bahwa kita mengalami masa kemarau yang panjang

OPINI Zulhawary Agustianto: Kemarau Ekstrem, Waspada Rekahan
Bram Kusuma
Zulhawary Agustianto 

DI AWAL pengujung tahun 2019 ini, kita dihadapkan pada kenyataan bahwa kita mengalami masa musim kemarau yang cukup panjang, bahkan terpanjang ke 2 setelah tahun 2015. Demikian data yang diberikan oleh Kepala BMKG mengomentari kemarau yang cukup ekstrim ini. Bahkan menurut kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, musim kemarau tahun ini akan berlangsung hingga bulan November yang mana kita tahu bahwa biasanya di Indonesia November itu masa penghujan sudah masuk.

Bila kita memundurkan memori ingatan kita ke tahun “jebot”, bulan November bahkan dikasih penghargaan, dijadikan sebuah judul lagu “November Rain” oleh sebuah grup rock terkenal dari Amerika Serikat. Ya, namanya grup rock tersebut adalah Gun’s n Roses, yang berdiri pada tahun 1984 silam.

Padahal sejatinya sejarah penciptaan lagu tersebut tidak ada sangkut pautnya dengan musim hujan di bulan November, hanya berkisah tentang kisah asmara yang padam. Namun oleh sang pencipta lagu yakni Axl Rose, kisah asmara itu diibaratkan “menyalakan lilin di tengah musim penghujan di bulan November”, padam disaat sedang mabuk kepayang. Sehingga musim penghujan di bulan November mampu memadamkan api asmara sang pencipta lagu.

Kembali ke topik, setelah adanya informasi dari BMKG tersebut, maka dapat kita saksikan betapa dampak kemarau panjang ini cukup menyengsarakan masyarakat. Di beberapa media baik online maupun cetak sudah diberitakan tentang luar biasanya dampak kekeringan tahun 2019ini. Berita Kekeringan yang panjang, lahan pertanian mengering, warga sulit memperoleh air bersih ( jangankan air bersih, air kotor saja susah), bahkan bencana kebakaran hutan yang menyebabkan kerugian negara tetangga atas “ekspor asap” dari Indonesia membuat kita hanya bisa mengelus dada dan tidak tahu harus bagaimana.

 Dengan cukup ekstrimnya kondisi kemarau tahun ini, tentunya ada kondisi tertentu yang harus menjadi perhatian khusus, bukan hanya dari pemerintah, namun juga dari masyarakat umum. Apa itu? Ya, dengan adanya kekeringan yang ekstrim maka berpeluang terjadinya bencana alam, salah satunya adalah tanah longsor. Kekeringan bisa menyebabkan terbentuknya struktur tanah yang saling lepas ikatan. Gampangnya akan terjadi keretakan tanah yang cukup ekstrim dan menciptakan celah bagi air masuk ke dalam tanah.

Bagi tanah di daerah landai yang mengalami kekeringan atau bisa juga tanah di perbukitan namun masih memiliki perekat seperti masih adanya akar dari pohon-pohon yang besar, kekhawatiran akan timbul bencana longsor tentu tidak terlalu besar.  Namun bila terjadi keretakan tanah yang cukup dalam di perbukitan, dan disitu juga sudah tidak ada lagi pepohonan besar yang mampu mengikat struktur tanah, maka bisa sangat dimungkinkan terjadinya bencana alam tanah longsor.

Di Jawa Tengah sendiri memiliki tingkat kebencanaan yang tinggi. Bahkan di situs bnpd.cloud/dibi/ saat ini Jawa Tengah menduduki peringkat pertama daerah yang paling banyak menghadapi kejadian bencana alam, seperti puting beliung, tanah longsor, banjir, gelombang pasang, gempa bumi dan lain sebagainya.

Dengan data kebencanaan yang tinggi tersebut kewaspadaan harus lebih ditingkatkan lagi bukan hanya di pemerintah daerah, tetapi juga di Masyarakat, khususnya masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana. Masyarakat harus tanggap, harus bisa membaca situasi dan keadaan di lingkungan mereka.

Terutama masyarakat yang tinggal diatas ataupun dibawah perbukitan atau di lereng atau tinggal di dataran tinggi, mereka harus mampu mendeteksi secara dini perubahan atas tanah tempat mereka berpijak. Sebaiknya mereka mulai melakukan survey dilingkungan mereka, mempelajari ada atau tidaknya perubahan bentuk tanah atau rekahan yang bisa menyebabkan longsor.

Bila ditemukan rekahan, segera ditutup atau dibuatkan jalan air disekitar rekahan tersebut untuk meminimalisir dampaknya. Bila perlu, ungsikan warga yang berada di aera berbahaya tersebut. Meskipun hal itu bukanlah jaminan, namun bila dilakukan bisa mengurangi jatuhnya korban jiwa.

Seperti yang pernah menimpa masyarakat di Dukuh Tringkil Desa Banaran Pulung Ponorogo pada tahun 2017 lalu. Sebanyak 38 warga desa tersebut hilang ditelan longsor yang mana sebelumnya tanda-tanda longsor itu sudah mereka ketahui sebelumnya, yakni adanya rekahan diatas bukit tempat mereka beraktivitas. Mungkin korban jiwa akan semakin besar bila mereka tidak menemukan rekahan tersebut.

Basarnas Kantor Pencarian dan Pertolongan/SAR Semarang, sebagai wakil pemerintah di Jawa Tengah dalam penyelenggaraan operasi Pencarian dan Pertolongan, sudah sering melakukan pencarian terhadap korban bencana alam terutama longsor. Di setiap kejadian tanah longsor yang menimbulkan korban jiwa, Basarnas dipastikan turun, bersama dengan pemda melalui BPBD dan juga TNI Polri dan masyarakat.

Dan karena tingginya kebencanaan di Jawa Tengah, Basarnas Kantor SAR Semarang juga telah dilengkapi peralatan dan perlengkapan untuk menunjang pelaksanaan operasi SAR tersebut, sebut saja alkon dan juga spyder excavator. Dengan adanya peralatan tersebut diharapkan masyarakat Jawa Tengah dapat lebih merasa aman.

Namun kembali lagi, hal itu bukanlah yang terpenting, namun kewaspadaan dari masyarakatlah yang mutlak diperlukan untuk mengantisipasi adanya bahaya disekitar mereka. Masyarakat yang sadar bencana akan membuat jumlah korban jiwa akibat bencana alam akan berkurang jauh bahkan menjadi tidak ada. Say “Zero Casualties” pada bencana alam dan bersahabatlah dengan alam.

*Humas Basarnas Kantor SAR Semarang

Editor: abduh imanulhaq
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved