Pembatik di Pekalongan Susah Regenerasi, Mutadi Sebut Efek Belum Sejahtera
Dikatakan Mutadi, Kaprodi Batik Unikal, jika kondisi tersebut dibiarkan, generasi muda tidak akan mau menjadi pembatik.
Penulis: budi susanto | Editor: deni setiawan
TRIBUNJATENG.COM, PEKALONGAN - Regenerasi pembatik di Kota Pekalongan semakin tergerus.
Menurut akademisi Universitas Pekalongan (Unikal), hal itu dikarenakan kurang sejahteranya para pekerja batik.
Dikatakan Mutadi, Kaprodi Batik Unikal, jika kondisi tersebut dibiarkan, generasi muda tidak akan mau menjadi pembatik.
“Regenerasi pembatik kini mulai tergerus. Padahal dalam proses membuat batik tak bisa dilakukan seorang diri,” jelasnya, Rabu (2/10/2019).
Dilanjutkannya, penanaman kecintaan terhadap batik perlu ditanamakan sedari dini.
“Tujuannya agar generasi penerus mau melanjutkan membuat batik."
"Yang paling penting cinta dahulu terhadap batik agar karya warisan bangsa itu tetap lestari,” ucapnya.
Selain menanamkan kecintaan terhadap batik sedari dini, ia berharap pemerintah terus mendorong terciptanya kesejahteraan bagi pekerja batik.
“Kesejahteraan tak bisa lepas dari regenerasi."
"Selama ini hanya yang memiliki modal yang sejahtera."
"Sementara nasib pekerjanya kurang diperhatikan,” imbuhnya.
Mutadi menambahkan, jika pekerja batik sejahtera, generasi muda akan mengekor.
“Jangan sampai generasi pembatik hilang. Maka dari itu jurang pemisah antara pemilik industri batik dan pekerja harus segera dicari solusinya."
"Jangan batik Pekalongan diekspor secara masif ke luar negeri. Namun pekerjanya tak sejahtera,” tambahnya. (Budi Susanto)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/regenerasi-batik-pekalongan.jpg)