Fokus : Kota Lama Tak Lagi Ambyar

Penyanyi lawas campursari, Didi Kempot kini sedang laris-larisnya. Pelantun lagu Cidro ini banyak “ditanggap” manggung hingga acara talkshow.

Fokus : Kota Lama Tak Lagi Ambyar
Tribun Jateng
Galih Permadi 

Oleh Galih Permadi

Wartawan Tribun Jateng

Penyanyi lawas campursari, Didi Kempot kini sedang laris-larisnya. Pelantun lagu Cidro ini banyak “ditanggap” manggung hingga acara talkshow. Lagu-lagunya pun kini banyak diputar dimana-mana.

Kembalinya masa kejayaan Didi Kempot tak lepas dari media sosial. Semua berawal dari acara Ngobrol Bareng Musisi (Ngobam) yang dipandu influencer sekaligus penyiar, Abdul Gofar Hilman. Acara yang ditayangkan di akun Youtube Gofar ini pun trending di Youtube. Acara Ngobam juga dibagikan netizen hingga trending topic twitter.

Gayung bersambut, foto dan potongan video yang dibagikan warganet juga sadboys, sadgirls, dan sobat ambyar -sebutan bagi fans Didi Kempot- ke facebook dan instagram membuat Didi Kempot dan lagunya menjadi viral. Berkah ini membuat Didi Kempot merasa terlahir kembali. Tak bisa dipungkiri, semua berkat media sosial.

Kondisi demikian, juga sedang dialami Kota Lama Semarang yang sedang laris-larisnya. Setelah direvitalisasi Walikota Semarang, Hendrar Prihadi, kawasan berjuluk “Little Netherland” tersebut terlahir kembali. Kota Lama telah bersolek, tampak cantik bak di sebuah kawasan Eropa. Lagi-lagi, kekuatan media sosial membuat Kota Lama menjadi viral dan menjadi magnet baru wisatawan ketika berkunjung ke Semarang.

Belum lagi, jika kawasan Kota Lama ditetapkan menjadi Warisan Budaya Dunia UNESCO, bisa jadi Semarang bakal mengeruk devisa dari sektor pariwisata lebih besar. Sertifikasi UNESCO akan memudahkan pemerintah untuk menjual kawasan wisata berkelas dunia.

Menyontoh Perancis, ada sekitar 37 situs warisan dunia Unesco di negara tersebut. Menurut data 2017, Perancis mampu mengeruk devisa dari sektor pariwisata sebesar USD 86 miliar dengan kunjungan sebanyak 82,9 juta wisatawan.

Upaya Walikota Semarang menggeser Kota Semarang sebagai manufacture industry ke tourism industry merupakan langkah tepat. Apalagi Kota Semarang ditunjang dengan kemudahan akses yakni jalur darat, keberadaan Bandara Internasional Ahmad Yani, dan Pelabuhan Tanjung Emas. Wisatawan mancanegara diberi kemudahan pergi ke Semarang.

Kekhawatirannya, jangan sampai pemerintah dan masyarakat kaget tak siap menerima gelombang kunjungan wisatawan ke Kota Semarang khususnya Kota Lama. Apalagi beberapa minggu ini tersiar kabar banyak keluhan wisatawan di Kota Lama terkait pengelolaan parkir di kawasan tersebut.

Wisatawan mengeluhkan lokasi parkir dan tarif parkir yang tak sesuai aturan. Area yang seharusnya untuk pejalan kaki dipakai lahan parkir sehingga terkesan semrawut. Ditambah ada oknum masyarakat yang menarik pungutan ke wisatawan yang hanya sekadar selfie di sana.

Perlu diingat kembali, jangan anggap sebelah mata kekuatan media sosial yang cepat mengorbitkan, namun juga gampang menenggelamkan. Apalagi berdasarkan geotag laporan Instagram Year in Review 2018, Semarang masuk peringkat ke delapan. Jangan sampai wisatawan datang penuh penasaran harus pulang dengan kekecewaan. Lalu kapok kembali dan membagikan kenangan buruk ke Semarang melalui media sosial.

Rasanya perlu segera dibentuk kelompok sadar wisata khusus untuk mengantisipasi riak-riak kecil yang mengganggu eksistensi Kota Lama yang kini tak lagi ambyar. Juga mengedukasi sekaligus menjadi pasukan dunia maya dalam mempromosikan Belanda Kecil. Tujuannya seperti yang diinginkan Walikota : sektor pariwisata menyejahterakan warga.(*)

Penulis: galih permadi
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved