Fokus : Kasus Ninoy Jangan Sampai Terulang

PUBLIK dihebohkan dengan aksi dugaan penyekapan dan penganiayaan pada Ninoy Karundeng, oleh sekelompok orang.

Fokus : Kasus Ninoy Jangan Sampai Terulang
tribunjateng/bram kusuma
Tajuk ditulis oleh Wartawan Tribun Jateng, M Nur Huda 

Oleh M Nur Huda
Wartawan Tribun Jateng

PUBLIK dihebohkan dengan aksi dugaan penyekapan dan penganiayaan pada Ninoy Karundeng, oleh sekelompok orang.

Kasus berawal saat terjadi kerusuhan pada aksi unjuk rasa di sekitar Kompleks Parlemen Senayan Jakarta, Senin (30/9). Ninoy melihat salah satu demonstran yang sedang mendapatkan pertolongan karena terkena gas air mata.

Ninoy kemudian mengeluarkan ponselnya. Ia bermaksud ingin mengabadikan momentum tersebut. Namun, ia didatangi massa yang menanyakan keperluan Ninoy mengabadikan momen itu.

Ninoy kemudian mendapatkan perlakuan kasar dari massa tersebut. Pelaku mengambil ponsel yang masih digenggam Ninoy. Mereka juga sempat memeriksa ponsel. Setelah melihat ponsel Ninoy, sejumlah massa langsung menyeret Ninoy ke sebuah tempat.

Aksi itu mengundang reaksi publik. Polisi pun telah bergerak dan menangkap 8 tersangka penculikan dan penganiayaan pegiat media sosial sekaligus relawan Jokowi tersebut.

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Suyudi Ario Seto menyebut, beberapa tersangka, memiliki peran masing-masing, ada yang melakukan interogasi, intimidasi, memukuli Ninoy, melakukan pengancaman pembunuhan, dan ada yang merekam dalam bentuk video serta menyebarkan ke media sosial.

Kasus ini menjadi keprihatinan pada aspek kemanusiaan. Meskipun jika seandainya sekelompok orang itu menilai aksi Ninoy tidak tepat, tak semestinya melakukan tindakan kekerasan.

Bagaimanapun, ketika seseorang dinilai memiliki kesalahan, maka sebagai warga negara yang ada di negara berlandaskan hukum, mesti menyelesaikan persoalan dengan tatacara yang ada.

Di sisi lain, aksi sekelompok orang yang melakukan penganiayaan pada Ninoy, menjadi signal bahwa ada sikap kekurang percayaan masyarakat pada aparat penegak hukum. Sehingga, mereka memilih melakukan aksi main hakim sendiri.

Kasus ini juga mesti menjadi perhatian bagi aparat penegak hukum, yakni dalam menindak sebuah perkara harus professional. Aparat penegak hukum memiliki tugas mengembalikan kepercayaan publik bahwa aparat mampu menjadi solusi pada aspek keadilan.

Pada kasus Ninoy, aparat penegak hukum harus mengungkap perkara ini secara transparan. Semua pihak yang terlibat harus ditindak tanpa tebang pilih.

Ketegasan pihak aparat sebagai salah satu upaya memberi efek jera agar kejadian serupa tak terulang di waktu mendatang. Jika tidak ada ketegasan, dikhawatirkan tindakan serupa akan ditiru orang lain.

Ketegasan aparat itu pula, tentunya akan mampu mengembalikan kepercayaan publik bahwa setiap warga negara Indonesia merasa terlindungi dan mendapatkan kepastian penegakan hukum.

Negara harus mampu menempatkan hukum sebagai ujung penyelesaian pada setiap persoalan yang ada di masyarakat.(*)

Penulis: m nur huda
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved