Ekspor Impor Jateng Menurun, Kinerja Manufaktur Terdampak Perang Dagang Amerika-China

Dari data yang dihimpun dari Badan Pusat Statistik (BPS) Jateng, keduanya mengalami penurunan dari bulan Juli ke Agustus.

Ekspor Impor Jateng Menurun, Kinerja Manufaktur Terdampak Perang Dagang Amerika-China
Tribun Jateng/dok
Aktivitas bongkar muat peti kemas di area Terminal Peti Kemas Semarang (TPKS), Kemarin. Bongkar muat pada 2014 mengalami peningkatan mencapai 576.176 Teus, jumlah itu lebih besar dibandingkan dengan realisasi troughput pada tahun 2013 lalu yang hanya berkisar 498.703 Teus. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Kinerja ekspor impor Jateng kembali mengalami penurunan. Dari data yang dihimpun dari Badan Pusat Statistik (BPS) Jateng, keduanya mengalami penurunan dari bulan Juli ke Agustus.

Bahkan, mereka mendapati komoditas impor yang menurun berasal dari golongan barang modal seperti kapas, dan mesin-mesin. Mayoritas adalah bahan modal untuk industri garmen dan tekstil.

Begitu juga di sisi ekspor, produk-produk pakaian jadi juga mengalami penurunan. "Ekspor Juli - Agustus menurun dari 960,41 juta dolar AS ke 756,15 juta dolar AS," terang kepala BPS Jateng, Sentot Bangun Widoyono beberapa waktu lalu.

Sedangkan impor dalam periode yang sama menurun dari 1,09 miliar dolar ke 965 juta dolar AS. Penurunam impor kapas sendiri mencai 19,17 persen dari sebelumnya.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jateng Frans Kongi tidak memungkiri data yang disampaikan BPS tersebut. Ia menyebut Agustus-September manufaktur memang sedang dalam masa yang sulit.

"Saya banyak berbagi dengan teman-teman memang kondisinya sulit, gudang-gudang di Amerika masih penuh, padahal di sana market terbesar pakaian jadi dari Jateng," ucap Frans saat dikonfirmasi, Kamis (10/10/2019).

Ia menyebut kondisi pasar global yang lesu itu menjadi faktor utama yang membuat kinerja ekspor-impor terutama sektor manufaktur lesu. Minimnya demand berimbas kepada turunnya produksi hingga akhirnya permintaan barang modal juga mengalami penurunan.

Frans menybut, saat ini upaya yang diarahkan industri garmen dan tekstil adalah fokus untuk produksi dalam negeri. Namun, hal itu juga belum cukup untuk menolong pasalnya barang yang sudah diproduksi untuk pasar luar negeri tidak bisa dialihkan begitu saja ke pasar dalam negeri.

"Karena memang harganya beda, disiapkan untuk dijual di sana jadi tidak pas untuk pasar dalam negeri," tambahnya.

Yang paling terdampak atas kondisi pasar global di Jateng memang industri tekstil dan garmen. Meski demikian ia menyebut secara umum Jateng masih oke.

"Dampaknya tidak separah Jabar begitu juga dengan jumlah industri yang tutup masih banyak di sana. Jateng secara komulatif sejak 2015 hanya sekitar 5 industri yang tutup," pungkasnya.(*)

Penulis: rival al-manaf
Editor: galih permadi
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved