Relawan Bencana di Kabupaten Tegal Diberi Motivasi, Diingatkan Tanggap Teknologi

Sejumlah Relawan siaga bencana dari berbagai unsur diberi penguatan motivasi oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tegal, Jumat (11/10/2019) ini.

Relawan Bencana di Kabupaten Tegal Diberi Motivasi, Diingatkan Tanggap Teknologi
TRIBUN JATENG/AKHTUR GUMILANG
Relawan mendapat pelatihan dan motivasi oleh Pemkab Tegal. 

TRIBUNJATENG.COM, SLAWI - Sejumlah Relawan siaga bencana dari berbagai unsur diberi penguatan motivasi oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tegal, Jumat (11/10/2019) ini.

Adapun motivasi semangat kesiapsiagaan relawan diberikan oleh Asisten Administrasi Pembangunan, M. Nur Ma'mun di Gedung Chandra Kirana Setda Pemkab Tegal, Jumat (11/10/2019).

Puluhan relawan yang hadir terdiri dari unsur Badan Penanggupangan Bencana Daerah (BPBD), Palang Merah Indonesia (PMI), SAR, dan Damkar Satpol PP.

"Dan menjadi relawan tidak dibayar bukan karena tak bernilai, tapi karena tak ternilai. Salam hormat saya kepada seluruh warga relawan," ungkap Ma'mun, hormat.

Ma'mun menuturkan, Indonesia kerap mengalami pergeseran lempeng tektonik sehingga menimbulkan dampak fisik pada kehidupan di permukaan.

Menurutnya, kondisi geologis dan geografis Indonesia berada pada ring of fire atau sebuah jalur zona bencana geologi yang terbentuk tapal kuda.

Andy Minta Perusahaan Besar di Pati Salurkan CSR Untuk Warga Kurang Mampu yang Belum Dialiri Listrik

Penyandang Disabilitas dan Lansia Tak Repot Lagi Urus Dokumen Imigrasi, Cukup Telpon Petugas Datang

Zona itu menyebabkan negara-negara yang berdiri di sepanjang jalur cincin api menjadi kawasan rawan bencana, termasuk Indonesia.

Bahkan, lanjut Ma'mun, sejumlah ahli juga memprediksi akan ada potensi gempa dahsyat atau megathrust, meskipun tidak dapat dipastikan kapan waktunya tiba.

"Kekuatan gerakan lempengnya lebih besar daripada kekuatan buatan, sehingga jejaknya akan menimbulkan garis patahan.

Hal inilah yang menjadikan Indonesia sering dilanda gempa bumi, gunung meletus termasuk rob sebagai dampak dari aktivitas lempeng tektonik," paparnya.

Tak sampai disitu, Indonesia juga dihadapkan pada perubahan iklim ekstrim karena gejala El-Nino yang menyebabkan musim kering menjadi lebih panjang.

Dampaknya, banyak daerah yang dilanda kekeringan, kekurangan air bersih, hingga bencana kebakaran lahan dan hutan.

"Disinilah peran relawan yang tidak saja terjun saat terjadinya bencana, tapi juga ikut serta menyiapkan masyarakat tanggap bencana.

Oleh karenanya, sukarelawan juga harus memiliki wawasan yang luas, termasuk tanggap teknologi, untuk mengikuti perkembangan kebencanaan, terutama pengurangan resiko bencana," ungkapnya. (Tribunjateng/gum).

Penulis: Akhtur Gumilang
Editor: muh radlis
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved