Dinkes Jepara Waspadai Obat Ranitidin, Imbau Puskesmas Berhati-hati Berikan Resep

Dinas Kesehatan Kabupaten Jepara mewaspadai peredaran obat ranitidin. Pihaknya mewanti-wanti kepada setiap Puskesmas agar hati-hati saat memberi resep

Dinkes Jepara Waspadai Obat Ranitidin, Imbau Puskesmas Berhati-hati Berikan Resep
TRIBUNNEWS
Obat ranitidin 

TRIBUNJATENG.COM, JEPARA - Dinas Kesehatan Kabupaten Jepara mewaspadai peredaran obat ranitidin.

Obat tukak lambung dan usus yang baru-baru ini diumumkan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) itu terdapat cemaran nitrosodimethylamine (NDMA) yang bersifat karsinogenik pemicu kanker.

"Kami sifatnya waspada. Soalnya kami masih belum mendapat surat edaran dari BPOM untuk melakukan penarikan ranitidin.

Kami juga sudah mengimbau kepada setiap Puskesmas dan apotek untuk hati-hati terhadap peresepan ranitidin," ujar Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jepara, Mundrikatun, kepada Tribun Jateng, Senin (14/10/2019).

Meski belum ada edaran resmi dari BPOM, pihaknya sudah mewanti-wanti kepada setiap Puskesmas agar hati-hati saat memberi resep.

Hal itu juga kewaspadaan itu, lanjut Mundrikatun, juga telah diteruskan kepada setiap apotek yang ada di Jepara.

"Ada yang bentuknya injeksi, ada juga yang tablet. Dari BPOM belum ada surat edaran. Tapi, saat ini, yang kami tarik yakni ranitidin jenis injeksi dan sirup dari pabrikan tertentu ," lanjutnya.

Mundrikatun menjelaskan, pihaknya hanya sebaga institusi teknis tidak berhak untuk menentukan jenis ranitidin yang berbahaya.

Sedangkan, untuk dampak dan efek buruk dari cemaran NDMA pada ranitidin pun, katanya, yang berhak memberi keterangan BPOM.

"Kalau kami teknis, saat ini cuma sekadar waspada. Kami juga menunggu informasi dari pabrikan-pabrikan yang memproduksi obat itu sedang mengaji atas produknya" katanya.

Dilansir dari Tribunnews.com, ranitidin sebagai obat tukak lambung dan usus ditarik BPOM karena ditemukan cemaran NDMA yang bersifat karsinogenik pemicu kanker.

Adapun risiko kanker akibat konsumsi obat tersebut karena faktor jumlah dan waktu.

Jadi dari segi jumlah, NDMA tidak boleh dikonsumsi melebihi 96 ng per hari sesuai dengan studi global US Foodand Drug Administration (,US FDA) dan Europian Medicine Agency (EMA) yang dijadikan BPOM dalam mengawal obat.

Dari faktor waktu, ranitidin akan memicu kanker bila dikonsumsi intensif selama 70 hari pemakaian.(Laporan Wartawan Tribun Jateng, Rifqi Gozali)

Penulis: Rifqi Gozali
Editor: m nur huda
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved