Anak-anak SD di Purbalingga Belajar Produksi Film
Produksi film kini bukan hanya dimonopoli industri perfilman besar ibukota.
Penulis: khoirul muzaki | Editor: galih permadi
TRIBUNJATENG.COM, PURBALINGGA - Produksi film kini bukan hanya dimonopoli industri perfilman besar ibukota.
Di tengah perkembangan teknologi komunikasi saat ini, siapapun bisa memproduksi film meski dengan alat terbatas.
Di Kabupaten Purbalingga, melalui program Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS) tahun 2019, siswa SMP hingga SD pun sudah mulai belajar memproduksi film.
Sebanyak 21 sekolah tergabung dalam program itu. 12 di antaranya Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan 9 Sekolah Dasar (SD) yang tersebar hampir di seluruh kecamatan di Kabupaten Purbalingga.
Bagi pengampu seni film di SD N 1 Sangkanayu Kecamatan Mrebet Bowo Leksono, mengajari film anak-anak SD merupakan tantangan baru.
Sebab biasanya para pegiat Cinema Lovers Communit (CLC) memberi materi produksi film dengan sasaran remaja dan anak muda setingkat SMP dan SMA.
“Film untuk bisa masuk SD memang keinginan kami sejak lama, kebetulan ada program GSMS dari Kemdikbud, ya gayung bersambut,” tutur direktur CLC Purbalingga itu, Selasa (15/10/2019).
Materi film yang diberikan untuk anak SD ini, baik teori maupun praktik, sama dengan yang diajarkan pada siswa setingkat SMP dan SMA.
Hanya saja, dengan bahasa komunikasi yang lebih disederhanakan.
Adapun bagi Padmashita Kalpika Anindyajati yang mengampu di SD Negeri 1 Makam Kecamatan Rembang, mengajar siswa SD sama dengan melatih kesabaran.
Pengajar harus memahami dunia mereka agar materi mudah tersampaikan.
“Anak-anak sukanya bermain, ya kita harus menyesuaikan, bagaimana belajar membuat film dengan cara bermain,” ujarnya.
Program GSMS di Purbalingga pun sudah menghasilkan beberapa kategori film, seperti vlog, video jurnalistik warga atau liputan, dokumenter sederhana, serta fiksi pendek.
Di akhir program GSMS di Purbalingga, film-film hasil karya anak-anak SD tersebut akan ditayangkan bersama karya seni lainnya untuk diapresiasi masyarakat luas.
“Meski masih anak-anak, mereka cepat menguasai teknologi. Tinggal bagaimana kita mengarahkan agar kemampuan mereka mewujud karya yang dapat dinikmati dan berguna bagi banyak orang,”katanya.
GSMS adalah program yang dijalankan Direktorat Kesenian, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Program itu diampu para seniman untuk memberikan pembelajaran kesenian pada kegiatan ekstrakurikuler di sekolah.
Ada 21 seniman yang bergabung dari beragam latar belakang, semisal bidang seni lukis, tari, musik tradisi, musik kontemporer, sastra, teater, dan film.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/anak-anak-sd-di-purbalingga-belajar-buat-film.jpg)