Breaking News:

Film More Than Work Karya Luviana Ceritakan Sisi Gelap Perempuan Pekerja Media

Film More Than Work adalah film karya Luviana, Chief Editor sebuah media untuk perempuan dan kelompok marginal. Film More Than Work bercerita tentan

Instagram/ Kolektif Hysteria
Film More Than Work bercerita tentang bagaimana kondisi perempuan di media. 

TRIBUNJATENG.COM- Film More Than Work adalah film karya Luviana, mantan jurnalis Metro TV yang kini bekerja sebagai Chief Editor di sebuah media pemerhati perempuan dan kelompok marginal.

Film More Than Work bercerita tentang  kondisi pekerja media perempuan.

Bagaimana perubahan media baru, konten media yang banyak diperbincangkan saat ini, jarang membicarakan tentang potret perempuan di media.

Juga jarang membicarakan persoalan yang menimpa pekerja-pekerja perempuan di media.

Berlatar belakang dari hal itu, film berdurasi 38 menit ini banyak menceritakan kisah potret buram perempuan di Indonesia.

“Film dokumenter ini memang diproduksi untuk menjadi film yang bisa menjadi bagian dari kampanye agar tubuh perempuan dihargai, lebih-lebih tubuh para pekerja perempuan di media,” ujar Luviana, sutradara film ini dalam sebuah pers release nya.

Film ini berkisah tentang Dhiar, perempuan pekerja media di Jakarta yang mendapatkan kekerasan seksual dari atasannya.

Dhiar selama 5 tahun berjuang untuk menuntaskan kasusnya hingga ke pengadilan.

Kisah kedua adalah kisah Barbie Kumalasari, seorang artis yang harus menghabiskan uangnya karena ia selalu dibully hanya karena tubuhnya yang gemuk.

Untuk mendapatkan peran utama di sebuah sinteron televisi ternyata tak mudah, para perempuan harus berjuang menjadi sesuatu yang dimaui industri media.

Kisah lain menimpa para pekerja minoritas seksual yang tak boleh muncul di televisi karena pilihan seksualnya.

Film produksi Konde Production ini dirilis di Jakarta pada 15 Juni 2019.

Berikut trailer film More Than Work :

Film yang mendapatkan dukungan dari Cipta Media Ekspresi, Ford Foundation dan Wikimedia ini selanjutnya akan diputar secara berkeliling.

“Hingga saat ini sudah ada kurang lebih 50 permintaan pemutaran di universitas, organisasi masyarakat sipil, serikat-serikat buruh dan di kalangan anak-anak muda.

 Ini menunjukkan antuasiasme dari kalangan muda, buruh, perempuan dan masyarakat umum yang ingin tahu seluk-beluk tentang media dan bagaimana dinamika yang terjadi pada para pekerja perempuan disana,” ujar Luviana.

Pemutaran film More Than Work di kota Semarang Jawa Tengah sendiri akan diputar di Grobak A[r]t Kos Hysteria  Jalan Stonen Nomor 29 Bendanngisor, Semarang, pada Sabtu (19/10/2019) pukul 19.00 WIB  - selesai. 

"Film More than Work akan diputar bekerja sama dengan Konde Production, dalam program Usil kepanjangan dari Ulas Film yang rutin diselenggarakan Hysteria setiap bulan," tutur Deputi Moving Image Hysteria ArtLab, Wan Fajar kepada Tribunjateng.com, Jumat (18/10/2019).

Wan Fajar menambahkan, acara ini terbuka untuk umum dan gratis. Ia mengaku film tersebut sayang untuk dilewatkan. 

"Sebuah film, yang menurut saya, patut ditonton dan diapresiasi, mengingat, karena menyuarakan persoalan yang menimpa pekerja perenpuan di media, karena media arus utama jarang membicarakan dan menyingkap tabir kisah potret buram pekerja perempuan sebenarnya di media," tambahnya.

Ulas Film alias Usil ini menghadirkan para pembicara dari berbagai kalangan, antara lain : Amanda Rizqyana (wartawati tribun jateng), Himas Nur (mahasiswi), LRC-KJHAM (lembaga NGO), Muhammad Shofii Tamam (Sekjend DK PPMI Semarang), Herdin Perdjoeangan (ketua Divisi Buruh dan Masyarakat Urban YLBHI-LBH Semarang), dengan moderatornya : Wilujeng Puspita Dewi.

(tribunjateng.com/ Wilujeng Puspita Dewi )

Penulis: Wilujeng Puspita
Editor: abduh imanulhaq
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved