Breaking News:

Upah Tak Layak hingga Ancaman Dibunuh, Inilah Kisah Perbudakan Awak Kapal Perikanan dari Jateng

Cerita pahit kerap dialami awak kapal perikanan, baik yang bekerja di dalam negeri atau pun luar negeri.

FISHERIES AGENCY
ILUSTRASI - Kapal Jin Long Tai No 6 yang diawaki 7 ABK asal Indonesia dan seorang warga China serta bernakhodakan kapten asal Taiwan hilang disapu badai di Samudera Pasifik 

Ada yang berlayar hingga 40 hari, hanya membawa uang Rp 400.000.

Padahal aslinya Rp 1 juta, namun sudah terkena potongan biaya hidup selama di laut dan sebagainya.

Ini tidak adil," tandasnya.

Selain itu, nelayan buruh ini tidak memiliki Perjanjian Kerja Laut (PKL), jam kerja tidak jelas, gaji tidak dibayar sesuai perjanjian.

Makelar hitam membidik pengangguran muda tanpa ijazah sekolah dengan iming- iming gaji yang tinggi.

Karena itu, pemerintah diminta menghentikan tindakan perbudakan dalam bisnis perikanan yang culas tersebut.

Pihaknya juga memiliki sejumlah mekanisme model yang bisa dipakai dengan dukungan pemerintah agar eksploitasi pekerja itu bisa ditekan.

"Ada model pencegahan lewat edukasi.

Pencegahan ini, bisa dibangun berbasis masyarakat.

Mereka diberikan kesadaran dulu agar tidak tergiur iming- iming tinggi, mengunakan jasa penyalur tenaga kerja yang legal, dan harus ada kontrak kerja jelas," tegas Roosa.

Yang paling penting, kata dia, ada kerjasama dari pemerintah provinsi dengan membuat peraturan daerag yang diharmoniskan dengan Undang- Undang terkait perlindungan dan jaminan kesejahteraan dan keselamatan buruh kapal perikanan.(mam)

Penulis: mamdukh adi priyanto
Editor: muh radlis
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved