OJK dan IFC Sepakat Lanjutkan Pengembangan Program Keuangan Berkelanjutan

OJK dan International Finance Corporation (IFC), berkomitmen melanjutkan kerja sama pengembangan program Keuangan Berkelanjutan (Sustainable Finance)

OJK dan IFC Sepakat Lanjutkan Pengembangan Program Keuangan Berkelanjutan
IST
Pertemuan OJK dan IFC di sela-sela IMF World Bank Annual Meetings 2019, di Washington D.C. Amerika Serikat, Kamis (17/10/2019) waktu setempat. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan International Finance Corporation (IFC), berkomitmen melanjutkan kerja sama pengembangan program Keuangan Berkelanjutan (Sustainable Finance) yang sudah terjalin sejak 2018.

Kerjasama ini diharapkan dapat mempercepat upaya menciptakan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, dengan menyelaraskan kepentingan ekonomi, sosial, dan lingkungan hidup.

Demikian kesimpulan pertemuan OJK dan IFC yang digelar di sela-sela IMF World Bank Annual Meetings 2019 di Washington D.C. Amerika Serikat, Kamis waktu setempat.

Hadir dalam pertemuan tersebut Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Heru Kristiyana, Vice President IFC Asia and Pacific Nena Stoiljkovic yang didampingi oleh Vice President, Multilateral Investment Guarantee Agency, World Bank Group, Ethiopis Tafara, dan Country Manager, IFC Indonesia, Malaysia and Timor-Leste, Azam Khan.

“Dengan berbagai inisiatif yang dilakukan Pemerintah, OJK, industri keuangan, dan berbagai pihak terkait lainnya, Indonesia saat ini sudah diakui dunia sebagai yang terdepan dalam implementasi Sustainable Finance. Indonesia siap memimpin upaya global dan menjadi role model bagi dunia dalam penerapan Sustainable Finance ini termasuk skema blended finance,” ungkap Wimboh Santoso, dalam siaran pers kepada Tribunjateng.com.

Dalam pertemuan itu, OJK juga mendapatkan komitmen IFC dalam pengembangan lebih lanjut penerapan Sustainable Finance di Indonesia, termasuk komitmen IFC menggalang investor global masuk di pasar greenbonds/green sukuk Indonesia.
Saat ini, IFC tengah merealisasikan komitmen di sektor keuangan di Indonesia senilai kurang lebih 150 juta dolar AS.

Berkesempatan menjadi pembicara dalam pertemuan OECD - Tri Hita Karana Coordination, Forum mengenai perkembangan Blendred Finance yang dihadiri oleh perwakilan organisasi internasional, investor, dan filantropis global. Wimboh menyampaikan pentingnya peran pembiayaan untuk mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).

Disadari bahwa di negara berkembang, terdapat kekurangan sekitar 2,5 triliun dolar AS setiap tahunnya. Di Indonesia sendiri diperlukan dana sebesar Rp 884 triliun (periode 5 tahun) untuk membiayai proyek SDGs.

“Peran skema Blended Finance menjadi sangat penting sebagai solusi untuk menutupi gap pembiayaan yang ada,” ungkapnya.

Adapun Wimboh bersama beberapa negara penggerak blended finance, berkomitmen untuk menyelesaikan standar internasional mengenai implementasi skema Blended Finance yang rencananya akan keluar di akhir tahun ini. Indonesia dan Kanada menjadi leader dalam inisiatif ini.

Dijelaskan, investor dan pilantrophi global sudah siap untuk berinvestasi di Blended Finance, sehingga diperlukan formulasi standar yang tidak hanya top down approach tetapi juga bottom up, dengan melihat penerapan di berbagai negara khususnya Indonesia yang saat ini memiliki 33 proyek, dengan 6 proyek telah diselesaikan tahun lalu, 9 proyek dalam proses, dan 2 proyek dimulai tahun ini.

"Kami berkomitmen untuk berbagi pengalaman dalam pengembangan dan pengawasan industri perbankan syariah, dan menyampaikan pendekatan OJK dalam menyiasati perkembangan Fintech yang begitu pesat. Kedua otoritas sepakat untuk menandatangani MoU dalam waktu dekat," pungkasnya. (dta)

Penulis: Desta Leila Kartika
Editor: abduh imanulhaq
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved