Waduk Cacaban Tegal Ditutup Sejak Oktober, Terutama Akses Pertanian, Dampak Kemarau Panjang

Panjangnya musim kemarau berdampak pada jumlah debit air di Objek Wisata Waduk Cacaban, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Tegal.

TRIBUN JATENG/AKHTUR GUMILANG
Tanah di tepian Waduk Cacaban Kabupaten Tegal mengering karena musim kemarau panjang. Padahal, tepian itu sebelumnya direndam air waduk saat dalam kondisi debit normal, Minggu (20/10/2019). 

TRIBUNJATENG.COM, SLAWI - Panjangnya musim kemarau berdampak pada jumlah debit air di Objek Wisata Waduk Cacaban, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah.

Akibatnya, waduk seluasnya sekitar 928,7 hektare itu sejak awal Oktober 2019 lalu ditutup aksesnya.

Seperti diketahui, Waduk Cacaban difungsikan sebagai sumber mengairi lahan pertanian sejumlah kecamatan di Kabupaten Tegal.

Beberapa kecamatan yang dialiri air dari waduk tersebut antara lain Kecamatan Kedungbanteng, Pangkah, Tarub, dan Adiwerna.

Kini, air waduk yang digunakan untuk mengairi 17 ribu hektare lahan pertanian itu ‎menyisakan hanya 5 juta meter kubik air.

Hal itu diakui Kepala UPTD OW Waduk Cacaban dan Pantai Purwahamba Indah, Djuliono saat dikonfirmasi Tribunjateng.com, Minggu (20/10/2019).

Dia menuturkan, angka pengurangan jumlah debit air itu didapatnya dari data PSDA Cacaban Tegal.

Dia mengungkapkan, penurunan debit air pada waduk dimulai sejak pertengahan Agustus 2018 lalu.

Sebab, kata Djuliono, normal debit air biasanya berkisar 49 juta meter kubik.

"Dari pertengahan Agustus mulai mengalami penurunan debit air karena di sini tidak turun hujan."

Halaman
12
Penulis: Akhtur Gumilang
Editor: deni setiawan
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved