Fintech Konglomerasi Potensial Kuasai Bisnis Keuangan

Kehadiran konglomerasi ke bisnis financial technology (fintech) menjadikan bisnis ini bisa saja dikuasai para penguasa industri keuangan.

Fintech Konglomerasi Potensial Kuasai Bisnis Keuangan
Kontan/Muradi
ILUSTRASI : Seorang wanita asal Solo viral gara-gara iklan palsu yang menjanjikan rela digilir demi lunasi utang di Fintech. 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA -- Kehadiran konglomerasi ke bisnis financial technology (fintech) menjadikan bisnis ini bisa saja dikuasai para penguasa industri keuangan.

Kelebihan dari para konglomerat dari para pesaingnya adalah memanfaatkan jaringan yang sudah lama dikuasai.
Misalnya, Grup Astra melalui PT Astra Welab Digital Arta (AWDA) dengan nama platform Maucash. Presiden Direktur AWDA, Rina Apriana mengaku, memanfaatkan cabang-cabang jaringan Astra sebagai jalur offline penyaluran kredit Maucash.

“Bahkan di aplikasi Maucash, ada tombol khusus untuk karyawan Astra, sehingga mereka dapat bertransaksi dengan nyaman,” katanya, kepada Kontan, baru-baru ini.

Tidak mau kalah dengan Astra, Group Djarum, melalui anak usaha dari Bank Central Asia (BCA), yaitu Central Capital Ventura, memiliki saham di fintech KlikACC.

"KlikACC akan menjadi channeling dengan BCA untuk menyalurkan kredit usaha rakyat (KUR). Yang sudah mulai berjalan adalah KUR untuk petani tembakau dan dokter mata, dan sedang dirintis KUR untuk petani jagung, petani garam, dan peternak ayam,” ungkap Direktur Utama KlikACC, Peter Djatmiko.

Selain sebagai patner channelling, KlikACC juga menjalin kerja sama dengan BCA untuk transfer dana, virtual account, dan sebagian menggunakan Bank BCA. Sedangkan untuk kustodian atau penitipan jaminan kredit (collateral) memakai BCA Finance.

Ada juga Sinar Mas yang mengusung platform Finmas. Ini merupakan fintech yang berada di bawah PT Oriente Mas Sejahtera.

Kepala Komunikasi Korporat Finmas, Rainer Emanuel menyatakan, dengan status izin OJK membuka kesempatan lebih besar untuk berinovasi dan berkolaborasi mengembangkan bisnis, produk, dan layanan, termasuk dengan Grup Sinarmas. “Kami lebih ke channeling dan network komunitas atau across group. Finmas tidak hanya untuk karyawan Sinar Mas,” paparnya.

Masih Terbuka

Menanggapi hal itu, Kepala Bidang Kelembagaan dan HumasAsosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI), Tumbur Pardede melihat, potensi pasar fintech masih terbuka lebar, dengan jumlah 127 fintech yang baru terdaftar dengan jumlah pengguna cuma 11 juta. "Pasar masih terbuka luas," ujarnya.

Ditambah lagi, kebanyakan pemain fintech masih menggarap pasar di Pulau Jawa. Kredit produktif yang disalurkan fintech pun masih belum menjamah seluruh potensi peminjam yang ada di Indonesia.

Tumbur berharap, kehadiran fintech konglomerasi itu menjadikan ekosistem dunia keuangan di Indonesia akan semakin lengkap.
Sementara pemain fintech yang tidak didukung konglomerasi tak gentar menghadapi persaingan. Misalnya saja PT Akseleran Keuangan Inklusif Indonesia (Akseleran) yang sudah mempunyai strategi melebarkan sayapnya menggelontorkan pinjaman.

Chief Executive Officer (CEO) & Co-Founder Akseleran, Ivan Nikolas Tambunan mengatakan, strategi mereka akan menyediakan produk pembiayaan yang fleksibel dan sesuai kebutuhan pasar bagi para peminjam. Produk itu di antaranya pre-invoice financing yang berbasis preorder, kontrak, dan Surat Perintah Kerja (SPK).

“Sedangkan dari sisi pemberi pinjaman (lender), kami memberikan kesempatan pendanaan dengan imbal hasil yang kompetitif dan tingkat gagal bayar relatif rendah dengan proteksi asuransi kredit,” katanya.

Total pinjaman yang sudah disalurkan Akseleran hampir sebesar Rp 200 miliar kepada sekitar 150 pelaku usaha (UKM) selama periode Juli hingga September 2019. Jumlah itu meningkat sekitar 208 persen dibandingkan dengan tahun lalu. (Kontan/Ferrika Sari)

Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved