Bijak Pakai Sosial Media: Rekam Jejak Digital Bisa Pengaruhi Promosi Jabatan

Sejumlah perusahaan menjadikan rekam jejak digital seseorang sebagai bahan pertimbangan dalam promosi jabatan atau menerima orang tersebut sebagai kar

Bijak Pakai Sosial Media: Rekam Jejak Digital Bisa Pengaruhi Promosi Jabatan
Hindustantimes.com.
Status WA Bisa Langsung Koneksi ke Facebook Story 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG -- Sejumlah perusahaan menjadikan rekam jejak digital seseorang sebagai bahan pertimbangan dalam promosi jabatan atau menerima orang tersebut sebagai karyawan.

Bila terdapat rekam jejak karyawan yang suka mengeluh atau galau statusnya maka akan jadi hal yang memberatkan baginya untuk naik jabatan di unsur pimpinan.

Sebut saja PT Media Sarana Data perusahaan yang bergerak di bidang teknologi informasi. Perusahaan yang sering disebut sebagai GMedia ini, tidak menjadikan media sosial sebagai bahan pertimbahan, saat akan rekrut karyawan. Bahkan untuk posisi tertentu perusahaan ini justru butuh karyawan yang aktif di media sosial.

HR & GA Manager GMedia, Anne Margaretha, mengatakan untuk mengisi posisi videografer maupun fotografer, dirinya perlu mencari kandidat yang aktif di media sosial. Sebab, ia menilai eksistensi seseorang yang baik di posisi tersebut juga terbentuk dari media sosialnya.

"Akan tidak mungkin sekali saya terima kalau dia tidak bisa edit videonya sendiri dan tidak memiliki media sosial. Karena posisi tersebut sangat cenderung berkaitan dengan media sosial," imbuhnya.

Media sosial yang dimiliki oleh setiap orang, juga dianggap Anne sebagai personal branding. Tapi ia juga akan sangat berhati-hati menyeleksi karyawan yang terlalu aktif di media sosial. "Maksud saya aktif mengungkapkan berbagai keluh kesahnya di media sosial, itu akan sangat kami perhitungkan. Karena tentu kekhawatiran bocornya informasi perusahaan bisa saja berawal dari menerima karyawan yang seperti itu," tegas Anne.

Ketika menghadapi seorang karyawan yang kerap mengungkapkan kegalauannya dengan pekerjaan di media sosial, Anne harus melakukan pendekatan secara emosional. Setidaknya, mengurangi risiko karyawan yang kecewa dan justru menjadi bumerang bagi perusahaan.

"Kalau seketika dia dimarahi tentu akan membuat orang tersebut semakin jengkel dengan perusahaan. Peluang untuk mencemarkan nama baik perusahaan semakin besar. Jadi saya biasanya akan menanyakan beberapa hal atas keresahannya. Bahasa lainnya memanusiakan mereka," bebernya.

Orang-orang seperti itu biasanya yang akan menjadi pertimbangan Anne untuk mempromosikannya ke jabatan yang lebih tinggi. Sebab orang yang mudah emosional di media sosial sangat membahayakan perusahaan. Terlebih ketika sudah menjadi pemimpin yang diberikan hak membuat keputusan.

"Memang kami agak sedikit repot dengan cek media sosial mereka satu-satu. Agar kami tidak kecolongan ketika sudah dipromosikan ke jabatan di atasnya. Karena dia akan banyak tahu mengenai berbagai informasi perusahaan," paparnya.

Halaman
123
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved