Hari Santri Nasional, Ribuan Santri di Tegal Ikuti Upacara di Alun- alun

Mengenakan sarung, berbaju putih, dan berpeci hitam, ribuan santri ikuti upacara Hari Santri Nasional di Alun- alun Kota Tegal, Selasa (22/10/2019).

Hari Santri Nasional, Ribuan Santri di Tegal Ikuti Upacara di Alun- alun
Fajar Bahruddin Achmad
Para santri di Kota Tegal mengikuti upacara Hari Santri Nasional di Alun- alun Kota Tegal. 

TRIBUNJATENG.COM, TEGAL- Mengenakan sarung, berbaju putih, dan berpeci hitam, ribuan santri ikuti upacara Hari Santri Nasional di Alun- alun Kota Tegal, Selasa (22/10/2019).

Ada sekira 3000 peserta upacara yang terdiri dari para santri, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU), dan pengurus Badan Otonom NU Kota Tegal.

Ratno Sulistya Ningrum (32), guru di SMA NU Kota Tegal mengatakan, pada Hari Santri, murid-muridnya selalu diikutsertakan mengikuti upacara di alun- alun.

Menurutnya, Hari Santri menjadi peringatan yang harus dipahami santri, terlebih warga NU.

Ratno berharap, perjuangan ulama dan para santri pendahulu bisa menjadi nilai tersendiri bagi murid- muridnya.

"Ini kan momen bersejarah memperingati perjuangan para ulama dan santri melawan penjajah. Saya berharap, mereka akan menjadi generasi yang cerdas dan juga memiliki akhlas baik," katanya.

Ketua PCNU Kota Tegal Abdal Hakim Thohari mengatakan, lahirnya Hari Santri Nasional itu untuk mengingat peran ulama, kiai, dan para santri menegakan kemerdekaan.

Menurutnya, resolusi jihad dari Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy'ari, menjadi jiwa semangat para santri untuk mengusir para penjajah.

"Pada 22 Oktober 1945, Mbah Hasyim mencetuskan resolusi jihad. Dengan semangat 'Hubbul wathon minal iman', terjadilah pertempuran ulama dan santri dengan penjajah selama tiga hari di Surabaya," ungkapnya.

Abdal berharap, Hari Santri bisa memupuk semangat patriotisme dan semangat keislaman.

Santri harus ingat pesan ulama terdahulu, bahwa nilai keislaman tidak boleh lepas dari nilai kebangsaan.

Mengenai peran santri untuk melawan sikap intoleransi dan radikalisme, menurut Abdal, santri harus ingat bahwa Islam adalah rahmatan lil alamin.

Santri juga harus bisa menerapkan sikap toleransi di kehidupan sehari- hari.

"Perbedaan itu fitroh. Manusia memang diciptakan berbeda- beda, tapi bagaimana kita menjadikan perbedaan itu menjadi sebuah kekuatan bangsa," ungkapnya. (fba)

Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved