Manfaatkan Limbah Enceng Gondok Menjadi Kreasi yang Bernilai

Bila berkunjung ke Danau Rawa Pening yang berlokasi di Kabupaten Semarang, pasti menemukan banyak tumbuhan enceng gondok

desta leila kartika
Foto Owner Syarina Production Handmade & Craft, Slamet Triamanto, menunjukan beberapa contoh produksi yang diciptakan dari memanfaatkan limbah eceng gondok. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Bila berkunjung ke Danau Rawa Pening yang berlokasi di Kabupaten Semarang, pasti menemukan banyak tumbuhan enceng gondok yang memenuhi permukaan air.

Jumlahnya yang cukup banyak, membuat Slamet Triamanto, berinisiatif memanfaatkan limbah eceng gondok untuk dijadikan kerajinan yang memiliki nilai jual.

Diakui oleh Slamet, awal mula tercetus ide untuk memanfaatkan limbah enceng gondok dan belajar membuat kerjainan pada tahun 2003.

Setelah satu tahun berlalu tepatnya 2004, akhirnya Ia memutuskan membuka usaha yang diberi nama Syarina Production Handmade and Craft (kerajinan eceng gondok).

Adapun sampai saat ini, produk yang sudah Slamet ciptakan dari memanfaatkan limbah eceng gondok di antaranya seperti tempat tisu, tempat galon, pajangan berbagai bentuk, tas, sendal, dan masih banyak lagi karena jumlahnya kurang lebih ada 100 item.

"Harga yang saya tawarkan mulai dari Rp 15 ribuan sampai jutaan bergantung pemesanan.

Tapi biasanya yang paling mahal adalah pesanan seperti miniatur kapal pinisi, candi, klenteng, yang tingkat kesulitannya tinggi dan butuh ketelitian lebih," ujar Owner Syarina Production Handmade & Craft, Slamet Triamanto, pada Tribunjateng.com, belum lama ini.

Membahas mengenai kendala selama menjalankan usaha kerajinan yang beralamat di Ds. Kebondowo, RT 4/lX, Kec. Banyubiru, Kab. Semarang ini, diakui oleh Slamet, lebih kepada tenaga kerja karena pihaknya membutuhkan tenaga kerja yang memiliki skill (kemampuan) bagus.

Walaupun memang saat ini sumber daya manusia banyak yang masih menganggur, tapi hanya siap tenaga saja tidak diimbangi dengan skill lain yang bisa membantu.

Dengan demikian, menurut Slamet, harus ada terobosan mungkin sejenis pelatihan atau pembinaan, tapi jangan sepotong-sepotong, sehingga nantinya bisa menghasilkan SDM yang memiliki keahlian.

"Pemasaran sudah sampai Jakarta, Bengkulu, Samarinda, Makasar, Batam, dan daerah lainnya. Namun kalau untuk pemasaran ke Luar Negeri (ekspor) memang belum, tapi saya lebih sering mengikuti pameran-pameran," ungkapnya.

Dalam proses produksinya, Slamet dibantu warga lingkungan sekitar yang didominasi oleh Ibu-ibu berjumlah sekitar 15 orang. Selain itu, Ia juga dibantu oleh anak-anak muda sekitar lima orang.

Ketika ditanya mengenai jumlah produksi per hari atau per bulan, Slamet mengatakan pihaknya tidak membuat pesanan per pcs tapi memang satu model dibuat langsung dalam jumlah banyak misal minimal 50 pcs.

Kenapa demikian? Karena semisal contoh satu orang membuat satu miniatur candi itu tidak akan jadi dalam waktu sehari. Tapi kalau proses pembuatannya dibagi tugas masing-masing dan melibatkan beberapa orang, pesanan 100 pcs pun bisa selesai dalam waktu 20-25 hari.

"Konsumen yang membeli di tempat saya beragam, ada per orangan, instansi, reseller, dan lain-lain. Tidak hanya memasarkan di ruko saja, tapi saya juga memanfaatkan Instagram, Facebook, dan email, karena untuk memudahkan bagi konsumen yang berasal dari luar Kabupaten Semarang atau yang tidak sempat berkunjung ke lokasi langsung," pungkasnya. (dta)

Penulis: Desta Leila Kartika
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved