Workshop Peningkatan Kualitas Publikasi, Dosen Dituntut Membuat Jurnal Internasional Berkualitas

Ia pun menargetkan dosen dan peneliti Indonesia bisa meningkatkan level karya jurnal internasionalnya hingga di Q2

Workshop Peningkatan Kualitas Publikasi, Dosen Dituntut Membuat Jurnal Internasional Berkualitas
Tribunjateng.com/Akbar Hari Mukti
Workshop peningkatan kualitas publikasi di Hotel Ciputra, Semarang, Kamis (24/10/2019). 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Dosen dan peneliti dituntut membuat jurnal internasional yang berkualitas.

Adhi Indra Hermanu, Kepala Subdirektorat Riset Dasar Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat Kemenristekdikti menuturkan hingga saat ini masih banyak dosen dan peneliti yang membuat publikasi yang belum berkualitas.

"Dari 31 ribu publikasi per tahun, masih banyak yang kualitasnya belum bagus," paparnya usai workshop peningkatan kualitas publikasi di Hotel Ciputra, Semarang, Kamis (24/10/2019).

Menurutnya, sebenarnya dari segi kuantitas, saat ini Indonesia tak kekurangan jumlah publikasi internasional berindeks scopus.

Di lingkup Asean, bahkan Indonesia saat ini peringkat 1 dari sisi banyaknya dosen dan peneliti membuat publikasi internasional dengan 31 ribu publikasi per tahun.

"Namun berbeda dengan Malaysia yang 70% artikel, kita baru 40% dari jumlah itu yang artikel, sisanya prosiding."

"Jadi kualitasnya masih kalah," paparnya.

Maka lewat workshop ini pihaknya berharap peneliti dan dosen bisa membuat karya penelitian yang lebih baik. Ia berujar, peneliti dan dosen di Semarang termasuk yang rajin membuat publikasi internasional terindeks.

"Maka kami bekerjasama dengan British Council untuk memfasilitasi peningkatan kapasitas menulis paper bagi dosen-dosen selama 2 hari ini," katanya.

Ia pun menargetkan dosen dan peneliti Indonesia bisa meningkatkan level karya jurnal internasionalnya hingga di Q2.

"Publikasi internasional memiliki level. Yang tertinggi itu Q1. Tapi jika masuk di Q2 sudah cukup baik. Kami tuntut dosen-dosen untuk bisa mencapai level tersebut," ungkap dia.

Teknis workshop menurut Adhi, di antaranya memastikan para dosen bisa menulis paper dengan baik, mencari tema yang baik, mencari sumber primer yang valid, juga mentoring.

Rektor Undip Prof Yos Johan Utama yang hadir di kesempatan itu menuturkan bila saat ini Undip memiliki 1.700 publikasi. Hanya saja ia menilai dari publikasi tersebut belum ada refund yang dihasilkan dari hasil riset.

Maka senada dengan kementerian, ia menilai kualitas harus diutamakan dalam pembuatan penelitian dan jurnal internasional.

"Artinya riset harus menghasilkan produk, agar universitas dapat hidup dari hasil penelitian yang menghasilkan produk bermanfaat," jelasnya. (Ahm)

Penulis: akbar hari mukti
Editor: muslimah
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved