Kisah Indra Kelola Bisnis Anyaman Bambu Wulung di Tegal, Libatkan Penyandang Disabilitas
Bisnis keluarga yang dikelolanya itu adalah usaha kerajinan bambu wulung atau bambu hitam (Gigantochloa atroviolacea).
TRIBUNJATENG.COM, SLAWI - Usaha keluarganya sudah berlangsung dari tahun ke tahun.
Bahkan sekarang sudah ditangani generasi ketiga.
Estafet tongkat bisnis kini dipegang Indra Eravani.
Bisnis keluarga yang dikelolanya itu adalah usaha kerajinan bambu wulung atau bambu hitam (Gigantochloa atroviolacea).
Masyarakat sekitar biasa mengenal usaha Indra dengan sebutan kerajinan anyaman bambu.
Usaha yang dikelola pemuda berumur 28 tahun ini berada di Kabupaten Tegal, Jawa Tengah.
Di rumahnya, RT 2 RW 5, Desa Dukuhsalam, Kecamatan Slawi, Indra memberdayakan warga sekitar untuk membuat pesanan anyaman bambu.
Berbeda dari yang lain, Indra bahkan melibatkan penyandang difabel dalam bisnisnya.
Setidaknya ada beberapa difabel di dalam bisnis anyaman bambu yang telah berjalan selama hampir 50 tahun itu.
"Ini bisnis turun-temurun. Mulai dari kakek, ibu hingga kini dikelola saya. Saya dipercaya memegang penuh usaha ini sejak 10 tahun yang lalu atau 2009 lalu. Saya melibatkan beberapa difabel karena saya juga difabel," ujar Indra sambil menunjukkan tangan kiri sambungannya kepada Tribunjateng.com, Minggu (27/10/2019).
Bukan tanpa alasan, Indra yang juga merupakan aktivis di organisasi Difabel Slawi Mandiri (DSM) itu memang berniat memberdayakan warga sekitar.
Tak hanya mempekerjakan warga sekitar yang menganggur, Indra pun bahkan sangat terbuka bagi para difabel untuk terlibat di bisnisnya.
"Saya itu ingin membuktikan dan mencontohkan, bahwa penyandang disabilitas juga punya kesempatan di dunia kerja. Ini saya tegaskan karena saya pernah frustasi tahun 2011 lalu. Kala itu, saya masih kerja ikut orang di Jakarta. Saya mengalami kecelakaan kerja, tangan kiri saya diamputasi. Kemudian pekerjaan saya hilang," Indra bercerita.
Saat pekerjaannya sebagai satpam di Jakarta hilang, ayah dua anak itu bingung mencari kerja.
Apa pun dilakukan Indra untuk menyambung hidup.
Beberapa bulan tak jelas hingga akhirnya balik ke Tegal, Indra kembali menggarap anyaman bambu yang ditinggalkannya pada 2010 lalu karena persaingan.
Indra kembali sebagai pengrajin bambu tidak di waktu yang tepat.
Pada awal 2012, atap asbes atau gipsum masih populer diminati konsumen.
Usaha anyaman bambu Indra memang sepi dilirik konsumen sejak 2010 silam.
Namun, Indra tetap teguh dan meyakini bukan pemuda jika tak dapat mencari cara untuk keluar dari kesulitan.
Di saat mulai boomingnya media sosial, Indra iseng-iseng mengunggah karya-karya anyaman bambunya di Facebook dan Twitter.
Bak gayung bersambut, anyaman bambu Indra kembali dilirik banyak orang.
Kini, bisnis Indra kian dicari.
Bahkan beberapa pelanggannya berasal dari Cirebon (Jawa Barat) dan Pekalongan.
"Kerajinan bambu wulung yang sudah turun-temurun ini biasa menggarap atap rumah, gazebo, bilik rumah, rumah bambu, dan tirai berbahan bambu. Berkat iseng-iseng di sosmed, saya kembali percaya diri dan berkeinginan untuk memberdayakan orang, terutama bagi kalangan difabel. Sebab, saya merasakan betul waktu tangan kiri diamputasi, saya bingung mau mencari kerja di mana lagi. Saya tak mau orang lain frustasi seperti saya karena keterbatasan fisik," urainya.
Iseng-iseng di media sosial mengembalikan kepercayaan diri Indra dalam berkarya.
Pada 2019 ini, Indra sudah bisa memberdayakan sekitar 15 pengrajin.
Satu di antaranya merupakan penyandang disabilitas, hampir sama seperti yang dialami Indra.
"Sebagian besar ibu-ibu saya libatkan. Di sini, ada 10 karyawan tetap dan lima karyawan lepas. Alhamdulillah, kini kami bisa memproduksi anyaman bambu per bulannya hingga 400 meter. Itu sesuai pesanan konsumen," jelas alumni SMA PGRI Slawi angkatan 2008 itu.
Indra menjelaskan, anyaman bambu yang biasa difungsikan untuk atap, gazebo, bilik, rumah, dan tirai dikenai biaya per meternya.
Untuk model anyaman biasa atau rata, dikenai biaya Rp 100 ribu per meter.
Model anyaman dengan motif ditariki biaya Rp 130 ribu per meter.
"Harga itu sudah dengan pemasangan. Biaya tersebut berlaku bagi anyaman bambu untuk pembuatan atap rumah, bilik, dan rumah bambu. Sedangkan untuk gazebo dan tirai harganya beda," sebutnya.
Untuk pembuatan gazebo, Indra menarif biaya Rp 300 ribu per meter.
Adapun tirai ditarif Rp 90 ribu per meter.
Selama sebulan, Indra membutuhkan 100 batang bambu.
Setiap batang memiliki panjang sekitar 6 meter.
"Alhamdullilah, orderan saat ini lumayan. Banyak orang dari luar daerah yang cari. Terutama warga Tegal, banyak yang pakai kerajinan buatan kami. Bulan lalu saja, kami habis menggarap atap rumah anggota dewan seluas 70 meter," tutur Indra.
Dia sedang berusaha mengembangkan usaha produk anyaman bambunya ke wujud-wujud lain.
Dia juga membuka selebar-lebarnya bagi kaum difabel untuk bisa terlibat dalam bisnisnya menggeluti batang pohon bambu.
"Saya juga mulai sibuk memasarkan produk ini ke berbagai ajang kompetisi enterpreuner. Salah satunya, saya lolos di ajang Wirausaha Mandiri Pemuda oleh Kemenpora pada September 2019 lalu," terangnya.
Indra juga sedang mendaftar ke ajang lain yakni Wirausaha Muda Prestasi oleh Kemenpora.
"Semoga, niat saya untuk mengajak para penyandang difabel terlibat di dunia usaha bisa dimudahkan. Saya yakin betul bahwa kita semua punya hak yang sama," tandasnya. (akhtur gumilang)