FOKUS : Bangga Berbahasa Indonesia

TERLALU naif bila kita berteriak, "Bahasa menunjukkan sebuah jati diri kepribadian kita,sebuah karakter bangsa, atau sebuah peradaban manusia."

FOKUS : Bangga Berbahasa Indonesia
tribunjateng/bram
Moh Anhar wartawan Tribun Jateng ok 

Oleh Moh Anhar

Wartawan Tribun Jateng

TERLALU naif bila kita berteriak, "Bahasa menunjukkan sebuah jati diri kepribadian kita,sebuah karakter bangsa, atau sebuah peradaban manusia."

Kalimat ini seringkali terdengar berulang-ulang, namun dalam nyatanya, kita memang memiliki persoalan dalam berbahasa.
Jatidiri berupa bahasa hanya menguap berupa kata-kata. Tak salah memang kalau kita menyebutkan citarasa kita rendah, maka nilai bahasa kita rendah. Sederhananya, jika seseorang memiliki kemampuan berbahasa, baik lisan maupun tulisan secara baik, maka hal itu berbanding lurus dengan tingkat kecakapan yang dimiliki.

Nun jauh di masa lalu, 28 Oktober 1928, sekelompok pemuda menggaungkan sebuah ikrar. Tiga rangkaian kalimat dari Kongres Pemuda II ini yang kemudian kita namakan "Sumpah Pemuda". Satu di antaranya adalah "Kami Putra dan Putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia."

Kesadaran pentingnya berbahasa ini dilandasi semangat persatuan perjuangan bagi negeri Hindia Belanda saat itu, yang berada di bawah kungkungan penjajahan. Ada misi nasionalisme, bahwa bahasa sebagai alat pemersatu ratusan suku dan ribuan bahasa yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Menggelorakan semangat bangga ber-"bahasa persatuan" ini tentu berbeda suasana bila kita menerapkan saat ini. Tantangan berbahasa secara baik dan benar masih menjadi pekerjaan yang belum tuntas. Satu contoh di antaranya adalah, coba tengoklah ke Kota Lama, Semarang.

Ada sebuah bangunan dengan penera sederet huruf kapital berwarna merah mencolok di bagian depannya: Semarang Kreatif Galeri. Secara susunan kalimat ini tidak benar menurut kaidah Bahasa Indonesia, apalagi sebagai Bahasa Inggris.
Konyolnya, gedung itu dikelola oleh Pemerintah dan menjadi satu yang dipromosikan, untuk menuju pengakuan kawasan Kota Lama oleh UNESCO sebagai kota pusaka warisan dunia pada 2020 mendatang.

Kita ingat beberapa waktu lalu, 30 September 2019, Presiden Jokowi menandatangani Perpres Nomor 63 Tahun 2019. Garis besar isi aturan ini mengenai kewajiban penggunaan bahasa Indonesia untuk semua pidato, dokumen, hingga penamaan bangunan, seperti gedung, apartemen atau permukiman, perkantoran, dan kompleks perdagangan.

Sebegitu pentingnya, penerapan Bahasa Indonesia dalam keseharian ini diatur. Bukan sekadar sebagai upaya meninggikan kecintaan terhadap bahasa Indonesia, melainkan juga menegaskan posisi bahasa nasional ini. Lazim kita mendengar nama-nama kawasan perumahan menggunakan bahasa Inggris. Cara pandang pemasaran bisnis properti, penggunaan nama asing ini bertujuan mengangkat citra hunian yang lebih berkelas, lebih maju dibanding menggunakan bahasa lokal, seperti kebanyakan nama kampung.

Tidak semua nama-nama usaha ini menggunakan bahasa asing. Kedai kopi, yang saat ini merupakan satu jenis usaha yang baru menyeruak di berbagai tempat. Bisnis kedai kopi yang digawangi pengusaha lokal berusia muda justru banyak yang menggunakan bahasa Indonesia. Laris juga dan bahkan seringkali terdengar unik.

Penerapan aturan berbahasa Indonesia ini sebetulnya bukan hal baru. Sebelumnya sudah ada UU No 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan diterbitkan dan disahkan pada 9 Juli 2009 oleh Presiden Dr H Susilo Bambang Yudhoyono.

Memang aturan-aturan tersebut, khususnya bahasa, tidak disebutkan sanksi atas pelanggaran tersebut. Jadi diperlukan kesadaran diri, penerapan bahasa Indonesia sebagai karakter bangsa.
Era global dewasa ini memang menuntut penguasaan bahasa asing. Yang kita persoalkan bukan ini. Tetapi, sikap rendah diri atau minder terhadap bahasa asing. (*)

Penulis: moh anhar
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved