Soal Gibran Temui Megawati, Pengamat Politik UNS: Peluang Besar Dapat Rekomendasi, Tapi Tak Etis

Pengamat politik Universitas Sebelas ‎Maret (UNS) Solo, Agus Riewanto, pertemuan ini bisa dinilai sebagai upaya untuk mendapat rekomendasi.

Soal Gibran Temui Megawati, Pengamat Politik UNS: Peluang Besar Dapat Rekomendasi, Tapi Tak Etis
Tribunjateng.com/Daniel Ari Purnomo
Putra Presiden Joko Widodo, Gibran Rakhabuming resmi menjadi kader PDI Perjuangan Solo, Senin (23/9/2019) di Kantor DPC PDIP Solo. 

TRIBUNJATENG.COM, SOLO - ‎ Gibran Rakhabuming Raka, dalam beberapa kesempatan menyampaikan bahwa ia bertekad akan turut bertarung dalam pemilihan wali kota (Pilwakot) Solo 2020, melalui Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).

Kamis (24/10/2019) lalu, Gibran menemui orang nomor satu di PDIP, Megawati Soekarnoputri, di Jalan Teuku Umar, Jakarta Pusat.

Menurut pengamat politik Universitas Sebelas ‎Maret (UNS) Solo, Agus Riewanto, pertemuan ini bisa dinilai sebagai upaya untuk mendapat rekomendasi dari PDIP, sebagai tiket dalam kontestasi Pilwakot Solo 2020.

‎Dituturkan, peluang Gibran untuk mendapat rekomendasi dari PDIP cukup besar.

"Peluangnya untuk mendapat rekomendasi cukup besar, 50 : 50 lah (dibanding dengan bakal calon yang diajukan dari DPC PDIP Solo, red)," ujarnya, kepada Tribun Jateng, Senin (28/10/2019).

Alasan Pedagang Jalan Peterongan Semarang Kompak Menolak Relokasi ke Dalam Pasar

Cerai dari Ahok, Veronica Tan Kepergok Naik Mobil Sendiri Masih Urus Warga Rusun

Pelanggar Dihukum Sebutkan Teks Sumpah Pemuda, Hasilnya Bikin Polisi Makin Terkejut

Agus mengatakan, bila dibaca melalui kacamata hukum tata negara, langkah Gibran 'memotong jalur' dengan menghadap Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri, sah-sah saja.

Tak melanggar aturan sama sekali.

Sebab, menurut dia, sejatinya persyaratan untuk mendapat ‎rekomendasi sebagai calon kepala daerah dari PDIP tidak cukup jelas.

"Apakah harus berjenjang, melalui DPC, atau bisa mendaftar langsung ‎ke DPP. Dalam AD/ART partai itu tidak diatur," katanya.

Hanya, menurut dia, dari kacamata etika politik, langkah Gibran dinilai tidak etis.

Halaman
12
Penulis: yayan isro roziki
Editor: Daniel Ari Purnomo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved