Breaking News:

Bursa Efek Indonesia Dekati 5 BUMN agar IPO di 2020

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) memasang target sebanyak 76 pencatatan efek baru dalam Rencana Kerja dan Anggaran Tahunan (RKAT) 2020

KONTAN/Cheppy A. Muchlis
ILUSTRASI. Bursa Efek Indonesia 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) memasang target sebanyak 76 pencatatan efek baru dalam Rencana Kerja dan Anggaran Tahunan (RKAT) 2020. Target itu tak jauh dari target tahun ini, yaitu 75 pencatatan efek baru.

Pencatatan efek baru itu tak hanya saham, tetapi juga obligasi korporasi dan kontrak investasi kolektif (KIK), baik efek beragun aset (EBA), exchange traded fund (ETF), dana investasi real estate (DIRE), serta dana investasi infrastruktur (Dinfra).

Dari target baru itu, BEI menyebut, paling tidak ada sebanyak lima BUMN yang akan menggelar initial public offering (IPO) pada tahun depan.

"Kami tengah melakukan pendekatan dengan BUMN. Siapa pun menterinya kami lakukan pendekatan," kata Inarno Djajadi, Direktur Utama BEI, baru-baru ini.

Ia belum mau menyebut BUMN mana saja yang akan didekati untuk IPO. Sebagai informasi, pada tahun ini belum ada BUMN yang mencalonkan diri untuk melaksanakan IPO.

Untuk mencapai target 2020, BEI sudah menyiapkan beberapa strategi. Antara lain sosialisasi, workshop, dan one-on-one meeting dengan perusahaan potensial.

BEI juga mengembangkan regulasi dan sistem yang mendukung kemudahan pencatatan efek. Inarno pun optimistis bisa mencapai target tersebut.

Masih diburu

Tahun ini, BEI sudah menggolkan sebanyak 42 IPO. Dalam pipeline, masih ada 35 calon emiten yang masih harus diburu untuk melakukan penjualan saham perdana hingga akhir tahun.

Direktur Penilaian BEI, I Gede Nyoman Yetna berharap jumlah IPO hingga tutup tahun ini setidaknya bisa menembus 57. "Dengan asumsi mengedepankan sisi kualitas, kemungkinan ada sekitar 30 perusahaan baru yang akan tercatat," ucapnya.

Kendati iming-iming emiten lima BUMN ikut melantai di bursa tahun depan cukup menggiurkan, Analis Panin Sekuritas, William Hartanto menilai, investor tetap memburu IPO di sisa tahun ini. "Mereka tetap memanfaatkan tren jangka pendek sambil menunggu IPO BUMN," paparnya.

Apabila sepanjang perjalanan nanti kinerja emiten BUMN terkoreksi, bukan tidak mungkin investor kehilangan minat untuk membeli saham IPO tersebut.

Analis Binaartha Sekuritas, Muhammad Nafan Aji menyatakan, investor tidak akan ragu membeli saham IPO bila valuasi harga saham murah. Apalagi jika fundamentalnya baik.

William menilai, sentimen yang dapat mempengaruhi pasar pada tahun depan adalah pemilihan presiden Amerika Serikat. Adapun, saham-saham masih menarik dikoleksi antara lain saham dari sektor telekomunikasi, consumer goods, dan teknologi.

"Karena industri digital sedang bertumbuh dan sektor barang konsumer adalah yang paling defensif," imbuhnya.
Sementara Nafan menyarankan investor mencermati sektor tambang, yang diperkirakan akan lebih stabil. Sektor lain yang juga menarik seperti perusahaan manufaktur. (Kontan/Ika Puspitasari)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved