Cara Ganjar Merayu Pemuda Gangguan Jiwa di Banyumas, Gunakan Dialek Ngapak

Percakapan Gubernur Jawa tengah Ganjar Pranowo dengan pemuda gangguan jiwa di Banyumas menggunakan bahasa ngapak.

Cara Ganjar Merayu Pemuda Gangguan Jiwa di Banyumas, Gunakan Dialek Ngapak
ISTIMEWA
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo berbincang dengan seorang gangguan jiwa yang dipasung di Cilongok Banyumas, Selasa (29/10/2019). 

TRIBUNJATENG.COM,SEMARANG - "Rambute keren nemen, kayak pemain band, kayak penyanyi. Kon pengin duwe bojo pira, siji apa loro? Loro langsung?  (Rambutnya keren sekali, seperti pemain band. Kamu ingin punya istri berapa, satu atau dua? langsung dua?)" tutur Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo dengan bahasa Jawa dialek ngapak khas Banyumasan.

Itulah potongan percakapan orang nomor satu di Jateng itu dengan Supriyono (27), warga Desa Jatisaba, Cilongok, Kabupaten Banyumas yang mengalami gangguan jiwa, Selasa (29/10/2019), menggunakan bahasa ngapak.

Maksud dari perkataan Ganjar yakni memuji rambut Supriyono yang seolah- seolah seperti penyanyi band.

Ia juga menanyakan apakah Surpiyono ingin punya istri.

Mereka berbicara dari sisi pagar besi pemisah.

Ya, karena menderita gangguan mental, sejak 2006, anak pertama Tarkam (47) tersebut dipasung di ruangan 1,5x1 meter.

"Kene ceweke sing paling ayu sapa? Engko langsung tak lamarna (Di sini cewek siapa yang paling cantik? Nanti biar langsung kulamarkan)," lanjut Ganjar dalam siaran pers.

Lontaran pujian Ganjar itu untuk membujuk Supriyono agar mau dirawat di Rumah Sakit Jiwa Daerah ( RSJD) Amino Gondohutomo Semarang.

Upaya pendekatan juga dilakukan politikus PDIP itu dengan menawarkan berbagai minuman dingin, kaus 'Jateng Gayeng' dan rokok.

Setidaknya, Supriyono sempat menjalani pengobatan dua kali dan bantuan dari Pemerintah Kabupaten Banyumas.

Tetapi, tidak ada kesembuhan signifikan lelaki yang hanya lulus SMP itu.

Jika sedang kambuh, kerap menjerit yang membuat tetangga takut. Hingga akhirnya dimasukan dalam kerangkeng.

Ganjar menjelaskan, Supriyono akan menjalani pengobatan dan seluruh biaya ditanggung pemprov. Tidak ada pungutan apapun ke pihak keluarga.

"Gratis semua. Pakaian juga dapat. Obat-obatan dapat. Kalau iya, nanti Supri langsung diantar ke rumah sakit milik pemprov," tandasnya.

Supriyono mulai mengalami gangguan jiwa sepulangnya dari Jakarta. Di ibukota, ia mengikuti bapaknya yang jadi kuli bangunan. Tidak lama berada di Jakarta, ia lantas pulang dan terus menerus memohon maaf pada ibunya hingga kondisinya seperti saat ini.(mam)

Penulis: mamdukh adi priyanto
Editor: m nur huda
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved