Forum Mahasiswa Sifa Unikmah : Merayakan Bahasa Indonesia

Barangkali diskursus kebahasaan tidak begitu banyak dilakukan ketimbang diskursus tentang politik, ekonomi ataupun sosial kemasyarakatan.

Forum Mahasiswa Sifa Unikmah : Merayakan Bahasa Indonesia
Bram Kusuma
Sifa Unikmah 

Oleh Sifa Unikmah

Mahasiswa UIN Walisongo Semarang

Barangkali diskursus kebahasaan tidak begitu banyak dilakukan ketimbang diskursus tentang politik, ekonomi ataupun sosial kemasyarakatan.

Namun, dewasa ini kita patut memberikan ruang khusus untuk menjadikan diskursus kebahasaan sebagai salah satu tema yang menarik. Letak menariknya bisa kita lihat dari beberapa hal berikut.

Pertama, kita mesti tahu bahwa Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi kenegaraan kita memiliki catatan sejarah. Catatan sejarah tersebut mengarah pada peristiwa besar berkumpulkan pemuda Indonesia yang kita kenal dengan Sumpah Pemuda yang dilaksanakan pada 28 Oktober 1928. Tak mengherankan bila kini, bulan Oktober selalu banyak kampanye, lomba, seminar tentang bahasa, karena bulan ini dikenal sebagai bulan bahasa.

Kedua, kita mesti lihat bagaimana negara besar ini dibangun. Indonesia dibangun dengan keberagaman yang luar biasa. Tidak hanya suku, ras, budaya melainkan juga keberagaman bahasa. Merujuk pada data Badan Bahasa Kemendikbud bahwa Indonesia memiliki 652 bahasa daerah yang masih aktif digunakan. Jumlah ini belum termasuk pada dialek dan subdialek yang dipastikan jika ini turut dihitung menjadikan jumlahnya semakin melonjak naik.

Ketiga, yang mestinya semakin menjadikan kita bangga memiliki Bahasa Indonesia adalah perhatian pemerintah terhadap eksistensi Bahasa Indonesia. Presiden Jokowi baru saja meresmikan aturan tentang wajibnya penggunaan Bahasa Indonesia dalam pidato kenegaraan baik di dalam maupun di luar negeri. Aturan ini secara khusus tertuang dalam Perpres No. 63 Tahun 2019. Melalui peraturan ini nantinya kita akan mendengar presiden kita dengan bangga berpidato di forum PBB dengan Bahasa Indonesia. Langkah ini perlu diberikan apresiasi yang besar, dalam rangka mengenalkan Bahasa Indonesia kepada dunia.

Salah Kaprah Bahasa

Fenomena yang acap kali terjadi dan cukup menarik adalah penggunaan bahasa yang salah kaprah. Dikatakan salah kaprah mengingat banyak yang menggunakan bahasa tidak pada suasana dan tempatnya. Sekiranya ada anak daerah yang merantau ke Jakarta, yang sehari-harinya berbahasa daerah begitu pindah Jakarta berubah menjadi berbahasa ala anak Jakarta, namun yang jadi janggal begitu pulang ke daerah masih menggunakan bahasa ala Jakarta biar mendapat label sebagai anak Jakarta yang dalam tafsiran sederhana, kaya dan keren. Sementara itu, warga kota yang notabene sudah fasih berbahasa Indonesia mulai pelan-pelan menggantikan dengan bahasa Inggris dalam bahasa sehari-hari. Langkah ini bukan sebuah kesalahan memang, sah-sah saja jika niatnya belajar, namun menjadi salah manakala tidak menempatkan pada tempatnya, belanja ke pasar misalkan, ketemu dengan orang yang minim pengetahuan bahasa Inggris misalkan, dan tentunya masih banyak lagi.

Jika menilik pada konsep fungsi utama sebuah bahasa adalah sebagai media dalam berkomunikasi. Bukankah tujuan komunikasi itu tercapainya pesan antar orang. Lantas jika menggunakan bahasa yang hanya dipahami satu orang saja apa bisa disebut keberhasilan komunikasi? Jelas pernyataan ini memiliki jawaban yang tidak. Menjadi penting menempatkan bahasa pada tempatnya. Dalam konteks ke Indonesiaan, tentu Bahasa Indonesia menjadi bahasa primer yang sejatinya kita gunakan kepada siapapun kita berkomunikasi. Dengan catatan, bahwa tidak melupakan bahasa daerah sebagai bagian dari warisan kearifan lokal, menjadi penting ini dijaga dan dilestarikan. Misalkan dengan mempergunakannya dalam suasana daerah yang sama-sama tahu dan bisa dengan bahasa tersebut. Menempatkan bahasa pada tempatnya, bukan lagi salah kaprah atau sekedar gaya-gayaan terkait bahasa.

Bangga, Berbahasa Indonesia

Terlepas dari fenomena salah kaprah bahasa yang ada, bahwa hal terpenting dalam menjaga kebersamaan dalam bingkai keIndonesiaan ini adalah dengan bersama merayakan Bahasa Indonesia. Merayakan Bahasa Indonesia dapat ditempuh dengan sadar dan bangga akan pentingnya menjaga Bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia-lah yang dulu turut menjadi pemersatu bangsa ini, Bahasa Indonesia-lah yang dulu menjadi penyambung aspirasi rakyat kecil dan kini selayaknya masih tetap dan akan terus Bahasa Indonesia menjadi bahasa kita bersama.

Boleh saja kau tahu dan bisa Bahasa Inggris, Perancis, Mandarin atau puluhan bahasa lain. Namun, tetap bangga berbahasa Indonesia adalah yang utama. Mulai sekarang dan dari diri kita, Mari Merayakan Bahasa Indonesia! (*)

Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved