Dispendukcapil Kabupaten Semarang Masih Kekurangan Blangko KTP Elektronik Jelang Pilkada

Dispendukcapil Kabupaten Semarang masih kekurangan blangko KTP elektronik, jelang Pilkada 2020.

Dispendukcapil Kabupaten Semarang Masih Kekurangan Blangko KTP Elektronik Jelang Pilkada
TRIBUN JATENG/MAMDUKH ADI PRIYANTO
Warga Brebes yang juga menjadi perwakilan pemohon di MK terkait aliran kepercayaan, Carlim menunjukan dua KTP dirinya. Kolom agama di KTP-nya dikosongkan dan KTP satunya tertulis 'lainnya' dalam kolom agama. 

TRIBUNJATENG.COM, UNGARAN - Dispendukcapil Kabupaten Semarang masih kekurangan blangko KTP elektronik, jelang Pilkada 2020. 

Jumlah kekurangan sebanyak 9.485 warga yang belum perekaman. 

Selain itu masih ada kekurangan 293.083 warga yang masih membawa Surat Keterangan (Suket).

Padahal KTP elektronik merupakan syarat mutlak yang harus dimiliki pemilik hak suara.

Plt Kepala Dispendukcapil Rudi Susanto membeberkan dinas hanya mendapat jatah 500 keping blangko

"Dari 771.421 data warga Kabupaten Semarang wajib KTP, saat ini terdapat 761.936 sudah melakukan perekaman, sedangkan sisanya warga yang belum melakukan rekam KTP elektronik sebanyak 9485. Jumlah tersebut masih terkendala minimnya ketersediaan blanko KTP elektronik dari pemerintah pusat," jelasnya.

KIP Jateng Minta Kades di Brebes Tak Takut saat Warga Minta Informasi Terkait Kebijakan dan Keuangan

Dilema Petani di Karangkobar Banjarnegara, Disuruh Tanam Kopi tapi Pemkab Tak Sediakan Gudang

Kontraktor Tak Laksanakan Perintah, Bupati Purbalingga Ungkap Kekecewaan

Terkait jatah blangko yang ada, Rudi mengungkapkan jumlah 500 keping hanya untuk keperluan mendesak. 

Dia menjelaskan pihaknya masih menunggu hasil Rakornas.

"Sehingga sisanya jumlah PRR atau Print Ready Record ada 26.724 sehingga jumlah tersebut kalau sudah siap akan segera kita cetak," imbuhnya.

Rudi berujar sulit untuk menargetkan sesuatu yang belum ada kepastian ketersediaan blangko tersebut.

Sementara ini pihaknya telah melakukan jemput bola di setiap SMK dan SMA. 

Dalam hal ini menyasar siswa yang berusia 16 atau yang hendak memasuki usia 17 tahun dan rerata tengah duduk di bangku kelas dua.

"Kami sedang fokuskan di setiap Sekolah Menengah Atas. Untuk pemilih pula kami data. Sehingga pada saatnya nanti mereka berusia 17 data basenya sudah siap," pungkasnya. (Amanda Rizqyana)

Penulis: amanda rizqyana
Editor: Daniel Ari Purnomo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved