Kinerja Ekspor Jateng Terus Melemah Sejak Bulan Juli, Masih Wajarkah?

Data Badan Pusat Statistik Jateng menunjukan secara umum baik sektor migas dan non migas nilai ekspor Jateng pada Bulan September senilai 723,01 juta.

Kinerja Ekspor Jateng Terus Melemah Sejak Bulan Juli, Masih Wajarkah?
tribunjateng/magang
Ilustrasi Ekspor: Aryani produksi aneka kerajinan sendiri. Bahkan sudah ekspor ke beberapa negara. Tempat usaha kerajinan di Aryani Art berlokasi di Jl Fatmawati no. 81 Lopait Tuntang, Kabupaten Semarang sebagai pusat penjualannya. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Kinerja ekspor Jateng terus menurun sejak bulan Juli 2019.

Data Badan Pusat Statistik Jateng menunjukan secara umum baik sektor migas dan non migas nilai ekspor Jateng pada Bulan September senilai 723,01 juta dolar AS.

Jumlah itu menurun dari Agustus yang mencapai 756,51 juta dolar dan 960,41 juta dolar di Bulan Juli.

Penurunan terbesar dari sektor non migas berasal dari komoditas pakaian jadi bukan rajutan yang menunjukan minus 35,18 persen.

Kepala BPS Jateng, Sentot Bangun Widoyono menyebut penurunan ekspor secara umum dari Agustus ke September 2019 sebesar 4,38 persen.

"Namun sebenarnya jika dibandingkan dengan Bulan September 2018 masih ada kenaikan 7,05 persen," kata dia.

SBI Pasarkan Dynamix, Targetkan Market Share 23 Persen di Jateng

Oknum Polisi Yang Hentikan Ambulans Bawa Pasien Gara-gara Sirene Dinonaktifkan

Astra Ajak 4.000 Pelari Kurangi Sampah Plastik Lewat Lomba Half Maraton

Ia menjelaskan, jika dilihat dari trennya pada tahun lalu, kinerja ekspor memang pada periode Juli, Agustus, September berangsur mengalami penurunan dan mulai akan kembali tumbuh di bulan Oktober.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jateng, Frans Kongi menyebutkan penurunan kinerja ekspor memang tidak bisa dipungkiri terimbas oleh lesunya pasar global.

"Gudang-gudang penyimpanan di luar negeri itu masih penuh, jadi permintaan memang menurun itu tidak bisa dipungkiri berpengaruh," ujar Frans, Minggu (3/11/2019).

Ia menyebut industri di semua daerah terkena dampak dari menurunnya permintaan pasar global.

Namun, ia meyakini Jateng yang paling bisa meminimalisir dampaknya.

"Penurunan ekspor di Jateng masih wajar, tidak mengkhawatirkan saya pikir bulan depan akan kembali tumbuh," bebernya.

Ia bahkan menyebut di provinsi lain beberpa industri sudah ada yang mulai gulung tikar.

Namun, di Jateng ada juga yang tutup namun menurutnya jumlahnya tidak banyak.

Sementara itu BPS merinci penurunan permintaan di pasar global paling banyak terjadi di Tiongkok dan Amerika Serikat yang merupakan dua konsumen utama yang berkontribusi cukup besar terhadap ekspor industri dari Jateng. (Rival Al Manaf)

Penulis: rival al-manaf
Editor: Daniel Ari Purnomo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved