Ngopi Pagi

FOKUS : Penjahat Kelamin dan Hukuman Kebiri

DUNIA pendidikan kita masih dihantui dengan masih bergentayangannya penjahat kelamin di sekolah. Meski ancaman hukuman kebiri bagi pelaku kejahatan

FOKUS : Penjahat Kelamin dan Hukuman Kebiri
tribunjateng/bram
CATUR WISANGGENI wartawan tribunjateng.com 

Oleh Catur W Edy

Wartawan Tribun Jateng

DUNIA pendidikan kita masih dihantui dengan masih bergentayangannya penjahat kelamin di sekolah. Meski ancaman hukuman kebiri bagi pelaku kejahatan seksual ini, nyatanya penjahat kelamin atau calon penjahat kelamin seakan tidak pernah takut melakukan aksi kejinya.

Kasus terbaru adalah aksi si penjahat kelamin di Kecamatan Hulu Gurung, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat yang dilakukan oknum kepala sekolah terhadap seorang anak didiknya di sekolah.

Kasat Reskrim Polres Kapuas Hulu Iptu Siko Sesatria mengatakan, peristiwa itu terjadi saat para siswa/siswi mengikuti program rutin sekolah, yakni pemeriksaan kesehatan yang dilakukan di ruang unit kesehatan sekolah (UKS). Dugaannya, pelaku kemudian melakukan perbuatan asusiladan kini oknum kepala sekolah tersebut statusnya sebagai tersangka.

Entahlah, ini sudah kasus yang keberapa terjadi di Negeri tercinta ini? Akankah hukum kebiri yang didengung-dengungkan bisa segera dilaksanakan?

Beberapa waktu lalu, prokontra hukuman kebiri sempat bergulir. Soal hukuman kebiri terbaru bila hakim mengabulkan tidak hanya akan menimpa pelaku pemerkosaan 9 anak asal Mojokerto Jawa Timur. Tapi juga bagi guru pembina kegiatan Pramuka asal Surabaya yang didakwa melakukan pencabulan terhadap 15 orang siswanya.

Hukuman kebiri kimia adalah tuntutan yang diberikan jaksa saat sidang perkara pencabulan anak di bawah umur di Pengadilan Negeri Surabaya, Senin (4/11). Tuntutan tersebut dibacakan jaksa penuntut umum dalam perkara tersebut.

Selain hukuman kebiri kimia, terdakwa juga dituntut hukuman 14 tahun penjara, dan denda sebesar Rp 100 juta subsider tiga bulan. Tuntutan hukuman tersebut, menurut Asisten Pidana Umum Kejaksaan Tinggi Jatim, Asep Mariono, sudah melalui banyak pertimbangan.

Salah satunya yang membuat pelaku dianggap pantas dengan hukuman kebiri tersebut karena pelaku adalah pendidik yang seharusnya mengarahkan dan mengayomi. Apalagi perilaku terdakwa kepada murid-murid binaannya dilakukan dalam waktu cukup lama yakni sepanjang 2017 hingga 2019.Dampak yang paling mengerikan dari hasil pendampingan psikologis beberapa korban, ada yang terindikasi akan melakukan hal yang serupa atau menjadi pelaku. Semoga tuntutan hukuman kebiri kimia menjadi peringatan bagi masyarakat dan berdampak efek jera kepada pelaku.

Apalagi aksi Penjahat Kelamin di Negeri ini terus saja terjadi dan banyak terus menelan korban tanpa pandang bulu. Korbannya pun tidak hanya orang dewasa, anak-anak bahkan balita hingga nenek-nenek.

Entahlah, sampai kapan peristiwa ini bisa dicegah dan membuat pelaku atau calon pelaku berpikir dua kali untuk melakukan kejahatan hina dan keji ini.

Semoga pemerintah dan pihak terkait peka dan segera menegakkan hukum yang adil bagi penjahat kelamin tersebut. Sehingga tidak ada lagi penjahat-penjahat kelamin dan tidak ada lagi korban-korban kejahatan seksual yang kebanyakan terjadi wanita dan anak-anak ini. Semoga!

Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved