Stunting Bisa Terjadi Karena Ibu Saat Remaja Asupan Gizinya Buruk, Ini Penjelasan IIDI

Angka stunting, kondisi gagal pertumbuhan pada anak karena kekurangan gizi di Indonesia masih berada di angka 23 persen.

Stunting Bisa Terjadi Karena Ibu Saat Remaja Asupan Gizinya Buruk, Ini Penjelasan IIDI
ISTIMEWA
Anggota IIDI Kota Semarang melakukan pemeriksaan terhadap remaja wanita dan memberikan suplemen penambah zat besi kepada remaja wanita. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Angka stunting, kondisi gagal pertumbuhan pada anak karena kekurangan gizi di Indonesia masih berada di angka 23 persen.

Kondisi itu masih lebih tinggi dari ketetapan WHO yang mengharuskan maksimal di angka 20 persen.

Tergerak untuk menekan angka tersebut Ikatan Istri Dokter Indonesia (IIDI) membuat kegiatan yang memfokuskan program pencegahan stunting pada momen bulan bakti mereka tahun 2019.

Di lapangan, mereka memberikan nutrisi kepada wanita muda, mengecek kondisi kesehatab mereka, dan memberi suplemen penambah zat besi. Kegiatan itu digelar serentak di seluruh cabang tidak terkecuali Kota Semarang.

Ketua IIDI Kota Semarang, Hetty Zen Budi Palarto menyebut fokus menekan angka prevalensi stunting hingga di bawah 20 persen memang menjadi kegiatan yang terstruktur dari cabang hingga ke pusat.

"Kami melihat permasalahan stunting ini akan menjadi kendala ditengah potensi generasi emas Indonesia. Jumlah penduduk produktif yang cukup banyak nantinya tidal akan maksimal jika sebagian besar saat kecil mengalami stunting," tulisnya dalam keterangan tertulis, Rabu (6/11/2019).

Hetty memaparkan, kekurangan gizi pada 1000 hari pertama kehidupan menyebabkan pertumbuhan anak terganggu. Mereka tumbuh lebih pendek dan mengalami keterlambatan berpikir.

"Ada beberapa faktor, selain anak yang memang kekurangan nutrisi, kondisi kecukupan nutrisi ibu pada usia remaja juga berpengaruh terhadap calon anaknya kelak," bebernya.

Ia menjelaskan untuk melahirkan generasi bebas stunting para remaja perempuan haruslah memiliki gizi yang baik terlebih dahulu. Hal itu karena akan mempengaruhi mereka saat kehamilan.

"Oleh karena itu di Semarang kami kemaring memberikan pemeriksaan hemoglobin dan pemberian suplemen penambah zat besi kepada seratus remaja wanita di SMK Ibu Kartini Semarang," beber Zen.

Ia menyebut upayanya memang masih dalam lingkup kecil jika dibandingkan dengan prevalensi stunting. Namun ia ingin kegiatan serupa bisa dilakukan oleh organisasi lain khususnya yang bergerak di bidang kesehatan.

Sementara itu, Ketua Panitia Kegiatan Bulan Bakti IIDI Nadiya Tun Paksi, menambahkan selama bulan bakti mereka tidak hanya memberikan nutrisi gratis kepada remaja wanita.

"Kami juga menggelar seminar pencegahan stunting dengan narasumber dokter spesialis anak, penyuluhan gizi seimbang dan posyandu, membagi makanan sehat, pemeriksaan bayi dan balita, hingga kelas ibu hamil," pungkasnya.(*)

Penulis: rival al-manaf
Editor: m nur huda
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved