OPINI Suwanto : Spirit Kebangsaan Maulid Nabi

Muhammad SAW adalah figur teladan yang mesti diidolakan oleh seluruh umat Islam. Setiap langkahnya selalu di bawah kontrol IIlahi. Tindakan dan ucapan

OPINI Suwanto : Spirit Kebangsaan Maulid Nabi
Bram
Suwanto 

Oleh Suwanto

Peneliti pada Pascasarjana UNY

Muhammad SAW adalah figur teladan yang mesti diidolakan oleh seluruh umat Islam. Setiap langkahnya selalu di bawah kontrol IIlahi. Tindakan dan ucapannya adalah permata berharga, menjadi landasan pembentukan akhlak ummatnya dalam berbuat dan menjadi hukum yang ditaati.

Di masa sekarang umat Islam tetap berkewajiban untuk mencontoh masyarakat ideal sebagaimana telah diwujudkan oleh Nabi Muhammad SAW, diantaranya mana kala membangun Madinah. Masyarakat Madinah adalah masyarakat yang majemuk, yang terdiri atas berbagai komponen etnik dan agama.

Piagam Madinah sebagai salah satu contoh produk keteladanaan Nabi Muhammad SAW merepresentasikan konsensus kolektif penduduk Madinah dalam ikrar untuk hidup berdampingan secara damai, saling tolong-menolong, saling menghargai, dan berkomitmen guna menjaga keamanan dan juga kedamaian negeri dari ancaman luar. Dan kepemimpinan Nabi Muhammad SAW sangat berpegang teguh kepada Konstitusi Madinah atau Piagam Madinah. Nilai-nilai sosial dan politik dalam Piagam Madinah berpijak pada prinsip universalisme Islam yang bersumber dari Al-Qur’an.

Di sisi lain, Piagam Madinah sebagai konsensus politik kolektif yang lahir dari kondisi sosio-kultural masyarakat Madinah yang majemuk. Seluruh pihak (penduduk madinah yang majemuk) yang terlibat dalam konsensus politik tersebut disebut sebagai ummatun wahidah, tidak peduli apa latar belakang agama dan ras mereka.

Bingkai nilai-nilai tersebut, entitas Piagam Madinah membentuk karakter politik yang bersifat demokratis yang menolak segala tindakan pemerintahan yang otoriter. Prinsip musyawarah, amanah, transparansi, dan kejujuran dalam berpolitik menjadi strategi jitu Nabi Muhammad SAW dalam membangun masyarakat madani yang demokratis. Hal ini dibuktikkan oleh Muhammad saat pertama kali hijrah ke Yastrib, ia melakukan dua hal. Pertama, mendirikan Masjid Nabawi sebagai tempat pertemuan dan permusyarawatan penduduk Yastrib yang majemuk dalam memecahkan berbagai persoalan. Kedua, mempersaudarakan kaum Muhajiriin dengan Ashar.

Kedua tindakan tersebut mengisyarakatkan bahwa sejak mula Nabi Muhammad SAW menginjaki tanah Yastrib, beliau telah menghendaki kehidupan yang demokratis yang kemudian dituangkan dalam Piagam Madinah. Dari situ pula, fanatisme kesukuan tidak lagi menjadi landasan kehidupan baik sosial, budaya, maupun politik. Nabi Muhammad SAW mengikat penduduk Madinah dalam sebuah ikatan spiritual yang mengindahkan persatuan, perdamaian, dan kasih sayang. Fanastime kesukuan yang selama ini menjadi basis sosio-kultural dan sosio-politik penduduk Yastrib hanya menjerumuskan mereka ke dalam konflik, permusuhan dan perpecahan yang panjang dan menjadi penghalang bagi proses keadaban dan keperadaban Kota Yastrib.

Akhlak Nabi Muhammad SAW dalam membangun masyarakat Madinah relevan untuk diaktualisasikan dalam konteks ke-Indonesia-an. Kepemimpinan Nabi Muhammad SAW di Madinah selalu mengedepankan keadilan, toleransi, persaudaraan, musyawarah, tanggungjawab (amanah), kejujuran, dan kemaslahatan umat. Orientasi yang didahulukan tersebut berlandaskan budi pekerti/akhlak yang mulia Nabi Muhammad SAW dalam membangun kemajuan Madinah.

Apalagi, mengingat cita-cita ideal Indonesia adalah menuju taraf masyarakat madani/civil society. Pada dasarnya idealitas kehidupan berbangsa dan bernegara yang beradab tersebut hanya lahir dari proses keadaban dalam kehidupan. Kepemimpinan harus didasari adil, kejujuran, tanggung jawab, amanah, dan akhlak (Dwihantoro, 2013: 13). Nilai keteladanan Nabi Muhammad SAW kemudian diaktualisasikan dalam kehidupan berkebangsaan yang berakhlak, toleran, tidak arogan, jauh dari sikap munafik serta tidak melakukan kebohongan publik dan tidak manipulatif.

Berkaca dari spirit Maulid nabi tentu banyak prinsip yang bisa diambil. Diantaranya, pertama, prinsip tauhid (Ketuhanan Yang Maha Esa). Dalam kerangka kerja etis tauhid ini adalah berkampanye melawan fondasi materialistik dualisme yang menampilkan keinginan superioritas melalui kekayaan. Kedua adalah amr ma’ruf dan nahi munkar. Prinsip ini mengajarkan gagasan tentang tanggungjawab individual dan kelompok (Khaeron, 2013: 364).

Ketiga adalah keumatan. Komunitas ummah yang dibangun nabi di Madinah sebagai kerangka dasar dari kerja sama dalam kehidupan sosial penduduk Madinah (Lapidus, 2000: 51). Dalam komunitas tersebut, beragam suku dan agama dapat diakomodir dan mampu hidup secara berdampingan. Berdasarkan konsep umat ini, unsur-unsur yang berbau SARA tidak dapat diterima sebagai fundamen suatu masyarakat dan negara (Khaeron, 2013: 367).

Fanatisme dan primordialisme yang lekat dengan unsur-unsur SARA hanya akan merusak nilai-nilai keumataan sebagai sistem sosial Islam yang menjunjung tinggi keadilan, persamaan dan hak asasi manusia. Harapannya dengan memetik ketiga prinsip inilah bangsa Indonesia tetap damai meski terdiri dari berbagai keragaman. (*)

Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved